Monday, August 7, 2017

The Wedding Journey #5 - My Dream Wedding

Beberapa waktu lalu, saya ngobrol sama salah satu temen saya tentang nikahan. Kebetulan, kita berdua mau menikah dalam 6 bulan ini, jadi persiapan-persiapan pun kadang kita lakukan bareng (maklum, LDR semua sis). Ada satu waktu, dimana kita baru menghadiri beberapa kondangan dan kita ngobrolin tentang perayaan-perayaan tersebut. Kadang ada yang bagus banget sampe bikin pengen, kadang ada yang kita kurang suka dan berusaha untuk nggak melakukan hal yang sama kedepannya, dan kadang bahas tentang temen-temen yang tiap ketemu di kondangan dan minta undangan.

Sejak awal, ibu saya selalu bilang kalau nikahan saya bakal jadi nikahan yang sederhana di balai desa aja. Jadi ketika memutuskan untuk menikah, saya udah punya list 20 tamu undangan yang saya ingin undang, karena saya pikir undangannya bakal 100an undangan aja, include keluarga. Ketika down-sizing temen-temen sampai angka 20, saya Cuma mikir: siapa yang selama ini selalu ada buat saya di saat-saat suka duka saya selama ini. (I’m not kidding. Saya juga baru tahu kalau nikahan saya bakal di gedung ketika mempersiapkan lamaran.)

Buat saya, tamu undangan itu bukan tentang seberapa banyak, atau absen dari temen TK sampai temen kerja, atau lainnya. Saya Cuma butuh orang-orang yang ketika datang ke nikahan saya, bisa ikut bahagia liat saya akhirnya berakhir dengan orang yang saya sayangi dan kemudian mendoakan untuk keberkahan kehidupan keluarga saya nantinya. Takutnya, orang-orang yang tidak tau perjuangan saya untuk sampai di posisi ini mungkin kurang bisa merasakan bahagianya saya.

My bridesmaid are my priorities, kalo nikahan saya Cuma akad, ya mereka lah yang saya undang. Each one of them knows my struggles and everything else. Saya percaya mereka bisa ikut merasakan kebahagiaan saya dan itulah hal yang terpenting.

Saat memperiapkan pernikahan seperti ini, rasanya pengen banget jadi super perfeksionis. Pengen A, B, D, E, F, G, eh lupa C-nya, dan lainnya.. dan disaat-saat kayak gitu, biasanya saya Cuma bisa nangis aja, karena panik sendiri. Mempersiapkan pernikahan sendirian while I’m still having a full-time job from 8-4 dengan pacar bekerja jauh itu nggak sederhana. Senengnya, saya punya keluarga yang sanagt supportive dan temen-temen yang bisa saya minta bantuannya.

Dari awal, saya tidak punya dream wedding karena ibu saya bilang nikahan saya ya hanya kecil-kecilan. Kemudian jadi sedikit membesar, saya juga masih tidak punya gambaran apa-apa. Saya pun rajin browsing di pinterest dan Instagram, lalu saya sadar satu hal. Benar kata sebuah artikel disini, bahwa Instagram membuat standar pernikahan di Indonesia jadi naik banget.. setelah dipikir, bener juga sih. Dulu, orang hanya fokus pada perayaan sekian jam yang digelar. Sekarang, orang fokus pada foto-foto pernikahan yang di pajang di Instagram. Saya percaya setiap orang punya prioritas masing-masing, walaupun untuk saya hal tersebut bukan prioritas, tapi saya mengerti betapa pentingnya hal tersebut bagi beberapa orang.

Hari itu, saya ngobrol sama temen saya,

“aku nggak mau punya nikahan mewah, yang didatengin semua orang, tapi mereka nggak tau betapa pentingnya hari itu buat aku. Aku nggak mau, asal dekornya mewah, makanannya fancy, tapi acaranya nggak dirasa sakral. Aku pengen orang yang dateng, sesederhana apapun nikahanku, merasa bahwa nih lho, Nina dan pasangannnya abis janji atas nama agama, untuk barengan sama orang ini, bagaimana pun keadaannya nanti. Aku pengen tamu yang hadir ikut bahagia karena orang tuaku punya mantu. Pengen aja mereka yang dateng ikut bahagia karena vibe-nya.”

Dan temen saya pun mengamininya.

Sekali lagi, prioritas orang itu beda-beda. Sah-sah saja untuk menggelar pernikahan yang kita idam-idamkan. Hanya saja  menurut saya, ada hal-hal penting yang tidak boleh dilupakan disaat kita sibuk mempersiapkan pesta besarnya: bahwa janji kita kepada Allah itu yang utama, dan bahwa setelah ijab qabul kita akan diikuti oleh hak dan kewajiban yang baru, jangan lupa juga ikut dipersiapkan.

Friday, July 21, 2017

The Wedding Jorney #4 - Komunikasi

Terlahir di keluarga yang cukup patriarki, bikin saya merasa bahwa tugas utama laki-laki  adalah bekerja. Hal ini juga yang bikin saya ‘malas’ gangguin pacar saya untuk urusan persiapan pernikahan. diam-diam, saya memutuskan sebagian besar hal sendiri. Dia hanya kebagian dapet report dari saya, bahwa kami sudah deal a b c d e. lagipula, saya merasa tidak harus melibatkan dia karena kami menjalani hubungan jarak jauh, dan semua vendor adanya di jogja. Jadi kayak, why even bother to ask him? Awalnya saya pikir memang seharusnya seperti ini, sampai pacar saya mulai cerita. Dia merasa tidak dipercaya karena kurang dilibatkan di acara pernikahan kami. Nggak drama sih, karena dia juuga nggak punya keinginan macem-macem, buat pilihan-pilihan yang saya buat juga nggak ada masalah di dia.

Saya waktu diceritain gitu, awalnya Cuma ketawa-ketawa dan merasa nggak salah. Saya pikir, lah ini kan urusan perempuan. Tapi melihat dia serius sama ucapannya, saya jadi mikir. Kalo saya terus-terusan mengkotak-kotakkan pekerjaan perempuan dan laki-laki, apa nggak malah saya bikin hubungan ini jadi nggak berkembang? Keterusan membagi-bagi mana porsi perempuan dan laki-laki bisa bikin kami nggak kompak as a team, karena bawaannya: lah ini kan kerjaan laki-laki, sedangkansaya kan perempuan, dan sebaliknya.

Sebenernya ini adalah hal sepele, tapi bakal kerasa banget efeknya kalo pas mau nikah gini karena ada banyak banget hal yang harus dikomunikasikan dengan mood baik oleh kedua belah pihak. Dan pada akhirnya, saya belajar untuk mempercayakan beberapa hal padanya. Hasilnya? Saya jadi sangat terbantu dan lebih bahagia jalaninnya. Saya merasa dia ikut bagian dalam acara ini, saya mendengar ide-ide dia lebih banyak, dan pada akhirnya saya jadi lebih banyak tau tentang dia. Bahkan, saya kadang amazed sendiri sama selera dia yang lebih bagus dari saya (contohnya: tentang desain cincin nikah dan baju untuk seserahan).

Walaupun begitu, hal ini balik lagi ke pasangan masing-masing. Kebetulan pasangan saya anaknya pengen ikut terlibat dan diskusi. Tapi, mungkin ada yang super sibuk sampai menyerahkan semua ke pihak wanita atau keluarga. Semua bener-bener balik ke pasangan masing-masing.  Saya Cuma nggak ingin pasangan lain punya masalah komunikasi yang sama dengan saya, sehingga sebaiknya semua dijabarkan dari awal. Apakah ada pembagian tugas, bagaimana pihak pria dan keluarga pria ingin terlibat dalam urusan persiapan pernikahan dan lainnya. walaupun keliatan simple dan sepele, tapi sejujurnya ini nggak mudah buat kami, apalagi sambil LDR!

Thursday, July 20, 2017

The Wedding Journey #3 - Katering, Undangan dan Souvenir

Pada post kali ini saya akan membahas tentang vendor catering, undangan, dan souvenir ya! Edisi special sih, karena tiga vendor ini adalah vendor kerabat keluarga kami semua.


Katering

Hmm.. kata orang catering adalah vendor yang paling penting, paling inti, dari sebuah pernikahan. Kata orang juga, orang sini paling ribet kalo makanannya nggak enak atau nggak cukup.  Dan hebohnya lagi, ada juga yang bilang kalo it doesn’t matter how luxe your wedding is, but if the catering fails, everything else will seem like a failure. Deg-degan juga ya…

Untuk urusan vendor satu ini, saya memang nggak pernah kepikiran yang lain, karena keluarga saya punya langganan catering tetangga. Menurutsaya, rasanya enak, harganya juga bersahabat. Pengalamannya di bidang wedding catering mungkin belum begitu tersohor seperti banyak catering lainnya di jogja, cuma insyaAllah saya percaya aja sama catering ini.

Ibu pemilik catering ini sudah seperti keluarga sendiri. Setiap ada acara, pasti kami meminta bantuan catering ini, nggak yang lain. Selain itu, vendor ini juga tidak pernah mengecewakan. Tidak pernah ada kejadian makanan kurang, service jelek, atau rasa yang tidak konsisten. Saya seneng banget saya bisa memasrahkan urusan wedding catering pada vendor ini. pemilik vendor ini juga mengerti betapa pentingnya catering bagi acara kami, saya melihat ibu ini benar-benar menghitung jumlah catering danmemberi banyak masukan soal makanan yang disajikan. Kami pun manut saja, toh kami suka semua hidangannya, saya pun tidak ada request khusus. Semoga bener-bener bikin tamu seneng ya!

Tips: always food testing first! Sebaiknya malah test food di nikahan-nikahan dengan vendor catering ini, biar tau apakah rasanya konsisten jika memasak dalam jumlah luar biasa banyak. Tanyakan apakah dimasak di tempat atau dirumah, berapa jumlah wedding yang ditangani dalam satu hari, berapajumlah team, bagaimana sistem pengambilan piring kotor, bagaimana untuk dekorasinya, apakah punya menu andalan, dapatkah kita meminta menu khusus, dan bagaimana penghtungan jumlah menu sesuai dengan tamu undangan, apakah perlu menambah jumlah, dan apa pertimbangannya.


Undangan

Kebetulan kakak saya punya percetakan, dan side projectnya adalah membuat usaha undangan pernikahan, jadilah saya memesan pada kakak saya. Saya bisa konsultasi setiap hari, karena kebetulan rumah kami juga berdampingan. Untuk urusan desain, saya sebenernya udah kepikiran desain undangan klasik, Cuma vendor undangan ini spesialisasi kearah undangan yang tipe pinterest-like. Saking nggak ada idenya, kakak saya sampe menyodorkan sejumlah desain yang bisa dijadikan inspirasi.. Alhamdulillah, akhirnya setelah beberapa desain yang kakak saya bantu carikan, ada juga yang cukup menarik untuk saya. Yey! (riset itu pentinggg banget)

Sejujurnya saya nggak bisa menceritakan banyak soal vendor ini karena prosesnya nggak pake mikir.. hahaha. Kayak, obviously saya pake vendor kakak saya. Saya pun bisa berinteraksi dengan desainernya langsung kalau ingin revisi dan butuh cepat (sebagai catatan, saya juga revisi berrrrkali kali kali kali), dan pada akhirnya banyak mempercayakan detailnya pada kakak saya (seperti jenis kertas dan tinta), jadi saya nggak bisa cerita banyak soal ini, sorry:”

Tips: tanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat sejumlah undangan, bagaimana jika ada salah cetak, apakah ada draft tulisan atau kita harus membuat dari zero, apakah dapat dibuatkan dummy nya, berapa kali boleh revisi desain/tulisan, apakah ada bonus-bonus tertentu?
Jangan lupa pastikan nama mempelai,nama orang tua mempelai, alamat keluarga, hari dan tanggal pernikahan, juga nama tempat dan alamat pernikahan benar, ya! cek ulang juga tulisan arab atau arti ayat jika memang mencantumkannya.


Souvenir

Untuk souvenir, saya punya satu goal, harus kepake! Wajib! Jadi saya nggak mau yang Cuma ditaruh doang di meja… Nah, awalnya saya udah dapet vendor souvenir yang saya inginkan. like, super duper dream souvenir! Tapi karena ada perubahan budgeting, saya harus ikhlas merelakan satu-satunya hal yang kayaknya saya super perjuangkan di nikahan ini *cry*. Saya kadang menyayangkan, kenapa ya harus dipangkas budget ini, Cuma ya balik lagi, kadang souvenir itu nggak esensial buat tamu, dan lebih penting acara di gedung itu sendiri. Lagipula, saya juga nggak merasa perlu memaksakan budget untuk satu hal tertentu, karena ya yang lebih penting daripada hari perniakahan itu adalah ya perjalanan setelah itu. Akhirnya mikir, apa ya yang lain?

Kebetulan sepupu jauh saya ada yang punya vendor, yang selama ini menangani packaging usaha yearbook kakak saya. Which means, vendor itu bisa bikin anything yang berbahan kulit sintetis, kanvas dan lainnya. Saya kemudian mengajukan satu benda, tapi kemudian sepupu saya merasa tidak bisa melsayakan finishing yang baik pada benda tersebut, jadi ganti lagi. Setelah mikir-mikir lagi, akhirnya, saya memilih suatu souvenir, yang saya nggak berharap banyak tentang itu. Turn out, dummy nya keliatan super cakep! Alhamdulillah.. Booking jauh-jauh hari juga bikin proses coba-coba, bikin dummy, milih kain, dan konsultasi jadi berjalan smooth dan enak. Pengrajinnya nggak merasa harus buru-buru jadi insyaAllah bisa maksimal. Semoga selalu seperti itu, deh, sampe barang-barangnya di tangan tamu nanti. Aamiin.

Tips: tanyakan berapa lama pengerjaannya, berapa pcs minimum,apakah ada maksimumnya, apakah kita bisa melihat contoh bendanya, apa saja stok warna yang ada, apakah bisa memberi packaging yang kita inginkan, apakah ada tambahan charge nya untuk itu, berapa biaya ongkir jika tidak bisa diambil sendiri, dan mungkin pertanyaan lainnya sesuai dengan benda yang dipesan.

Setelah ini mungkin vendor yang akan dibahas adalah ring box dan kotak seserahan, tapi mungkin masih lama ya, dekat-dekat dengan hari –H. hmm, apalagi ya yang dibahas? Ada ide?

Wednesday, July 19, 2017

The Wedding Journey #2 - Dekorasi, Rias Manten dan Baju Pernikahan

Bab tentang vendor ini akan terbagi menjadi 2 post yang berbeda, karena bakal terlalu panjang kalau digabung. Disini saya cuma mau cerita tentang pemilihannya aja, belum sampai review tentang vendor, jadi nama vendor masih saya rahasiakan ya. Post ini bakal banyak membahas dekorasi, rias manten, dan baju pernikahan, hope it'll help!

Dekorasi

Ada satu vendor dekorasi yang direkomendasikan oleh sahabat dan kerabat mama saya, dan setelah saya cek instagramnya, ternyata lumayan bagus dan berpengalaman, jadi saya memutuskan untuk menghubungi vendor ini. Sebelumnya, saya udah email dan menghubungi vendor lainnya, tapi rasanya nggak sreg gitu. Sayangnya, saya nggak cukup banyak riset, sehingga ada beberapa vendor dekor yang bagus dan cukup berpengalaman yang saya lewatkan. Jadi, saya Cuma dateng dan ngobrol bener-bener sama satu vendor dekorasi yang udah direkomendasikan orang-orang terdekat saya tersebut.

Yang nggak boleh ditiru oleh bride-tobe lain adalah, bahwa sebenernya saya literally nggak tau mau dekor seperti apa. Dari dulu, ibu saya selalu bilang ‘udah, nikahannya besok kecil-kecilan aja ya biar uangnya bisa ditabung..’, jadilah saya nggak pernah punya bayangan pernikahan selain akad nikah, udah. Ditambah dengan persiapan ujian, tiap saya cari-cari inspirasi dekorasi pernikahan, ada rasa bersalah gitu karena skip belajar. Akhirnya, saya ambil contoh dekorasi yang umum dipakai, yang sering saya lihat di Instagram, sambil berdoa semoga bisa bagus juga buat nikahan saya nanti!

Seperti Bride-to-be lain, di sini adalah masa-masa lumayan intense sama orang tua. Saat itu orang tua- saya memutuskan nikah di gedung dan mengumumkan jumlah tamu undangan, saya yang dari dulu merasa bahwa nikahank nantinya kecil jadi merasa nggak well-prepared. Bahkan saya udah bikin list 20 orang yang akan  sayaundang di nikahan saya! Tapi ya kemudian saya sadar, bahwa di budaya sekitar saya, kebanyakan nikahan itu untuk kerabat orang tua, jadi ya memang harus mengikuti orang tua aja

Balik ke dekor, waktu udah mantep ngasih tema warna dan dekorasi yang saya inginkan, saya ditanya tentang warna bunga dan saya stuck. Hmm.. mau apa ya? Mau bentuknya seperti apa? Letaknya dimana aja? Dan lainnya. so much thoughts into it ya.. mungkin karena saya juga nggak punya tema spesifik, sih… and it took weeks until I got the final dreamy décor that I want, tapi itupun masih sangat kasar dan sebagian besar saya serahkan ke vendornya. I thought, ‘yang penting nikah, deh!’ :p

Walaupun saya menyesalkan kenaa saya nggak serius dalam riset dan berkunjung dengan beberapa vendor di dekor di jogja, tapi saya cukup seneng bahwa tim vendor dekor yang saya pilih ini sangat helpful dan komunikatif. Menurut saya, ini pentingggg banget mengingat akan ada banyak hal yang bikin super stressful terkait dengan persiapan pernikahan, jadi ngobrol sama vendor harus happy!

Tips:
- pantau portfolio berbagai vendor dekorasi, lihat sosial medianya, cari tahu pengalaman dan apakah dia up to date terhadap dekorasi masa kini atau dekorasi lain yang kita inginkan.
- tayakan h-berapa jam dekorasi stand by, apakah bisa mengakomodir kursi, AC, Sound, atau tenda tambahan, apakah material dekor asli atau palsu, bagaimana menyiasati jika dalam 24 jam gedung dipakai 2 acara, dan lainnya.
- Yang nggak kalah penting, lihat juga bagaimana tim tersebut berusaha mengakomodir keinginan kita dengan budget yang kita punya, bagaimana caranya mengkomunikasikan pendapat-pendapatnya dan apakah mereka bisa mendengarkan yang kita inginkan.


Rias Manten

Seperti di post sebelumnya, awalnya saya punya MUA favorite yang saya suka banget hasil makeupnya. Tapi setelah pertimbangan satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa perias manten saja. Perjalanan mencari rias manten ini juga lumayan tricky, karena dari awal, saya nggak pernah kebayang dirias dengan rias manten dan nggak pernah cari-cari sebelumnya. Memang, ada banyak rias manten senior yang terkenal di jogja, tapi setelah saya liat-liat hasil makeupnya, kok saya nggak sreg ya?

Setelah cari sana sini, ada satu perias manten yang lumayan muda (disbanding dengan perias manten lainnya di jogja, lho ya) yang hasil makeup nya saya suka! Setelah kontakan via whatsapp, saya baru tahu bahwa orang-orang pesen jasa perias ini bisa sampe 1 tahun sebelumnya, padahal saat itu saya udah 6 bulan sebelum hari H lho. Setelah bener-bener sadar kalo nggak bisa, saya (agak drama) bilang, “oh yaudah mba, kalo memang belum jodo nggak papa. Padahal saya suka banget lho sama hasil makeup mba..,” dan setelah itu mba perias ini bilang, bahwa minggu malemnya kosong, padahal saya maunya acara pagi. Setelah saya sudah hampir menyerah, beberapa hari kemudian perias ini chat saya, “mba kalo sabtu saya masih kosong..” dan saya pun antara bingung dan excited banget. Buru-buru saya bilang ayah dan ibu saya, kemudian menghubungi kantor ayah saya untuk menanyakan jadwal gedung tersebut. Dan alhamdulillah, masih kosong!

Sekali lagi, saya tuh percayaaa banget sama yang namanya takdir. Menurut saya, semua udah diatur, kita ketemu siapa, end up sama siapa, temenan sama siapa, sekolah dimana, dan lainnya, termasuk soal urusan vendor ini. jadi dari awal, saya  berusaha semampu saya dan pasrah aja, kalo emang Allah berkehendak pasti terjadi kok. Dan alhamdulillah, rias manten ini masih berjodoh untuk jadi bagian di pernikahan saya, insyaAllah.

Tips:
Cari tahu service apa saja yang dapat diberikan. Apakah hanya makeup, atau dengan hairdo, apakah bisa juga untuk rias adat, adat mana saja yang bisa, bisakah membimbing kita dalam prosesi adat, apakah menyediakan kebutuhan prosesi adat tersebut, apakah menyediakan sewa baju adat juga untuk orang tua dan saudara, apakah punya tim lain untuk makeup keluarga inti maupun keluarga jauh, apakah tiap tambahan jasa/printilan pernak Pernik attire dikenakan tambahan harga, dan lainnya.


Baju Pernikahan

Untuk baju resepsi, saya bersikukuh mau nyewa. Walaupun sebenernya harganya nggak jauh beda sama sewa perdana yang standard, tapi wedding dress yang saya inginkan itu ribet banget dan akan sangat pricey, jadi daripada setengah-setengah lebih baik sewa aja. But this is super duper challenging sih..

Awalnya, saya ke tempat sewa yang cukup murah dan punya banyak banget stok. Literally banyaaak banget! tapi biasa aja gitu.. dan karena dari awal pikiran nikah sederhana masih melekat, jadi yaudah ada lah yang saya pilih. Next, ke beberapa tempat sewa yang ada di Instagram. Ada yang punya harga cukup reasonable tapi harus bayar baru boleh coba. kebijakan ini sulit saya terima karena menurut saya, sebagus-bagusnya kebaya, ini tuh tentang cocok engga kita pakenya, dan tanpa dicoba, saya nggak tau akan cocok atau engga. Akhirnya, saya ke beberapa persewaan kebaya yang kecil kecil gitu, tapi ya standar-standar gitu.. mulai hopeless dan mulai menyiapkan mental kalo harus bikin.

Terus saya menemukan sebuah salon persewaan, yang juga bisa sewa perdana, dengan pelayanan yang baik dan baju yang saya suka! Alhamdulillah banget… walaupun saya akhirnya bikin custom untuk pengantin pria, dan harganya juga jadi mirip sama sewa perdana, tapi buat saya it’s okay. Ya namanya jodoh itu ya, bisa jatuh cinta gitu liatnya, padahal ya ‘Cuma’ kebaya sederhana.

Tips sewa:
Tanyakan berapa hari sebelum hari H kita fitting, dan berapa hari sebelum hari H baju dapat diambil, apakah kita harus mencucinya di laundry atau hanya tinggal dikembalikan? Kapan maksimal dikembalikan? Jika terlambat apakah dikenakan denda? Apa sudah termasuk headpiece dan accecories lain? Apakah ada dari tim persewaan yang akan membantu mengenakan pakaian pada hari H?
menurut saya, akan lebih sederhana jika saya pinjam baju resepsi/akad dari perias manten saya, cuma ternyata saya nggak ada yang sreg sama baju yang tersedia disana..:)


Next: katering, undangan dan souvenir!



Tuesday, July 18, 2017

The Wedding Journey #1

Three months before my wedding day and I started to feel overwhelmed by feelings.

Saat pertamakali memutuskan untuk menikah, Bapak lagi punya sejumlah pekerjaan, setelah sebelumnnya sering muncul di TV for some reasons. He was so busy, we could hardly meet to discuss things. Ketika mempersiapkan lamaran pun, saya lagi sibuk mempersiapkan ujian stase terakhir, jadi saya nggak begitu into it. Saat itu saya bener-bener ‘terserah’ dan ‘asal jalan’ deh (but thanks to my in-law who prepared almost everything into details! Hands down!) Lalu setelah lamaran pun, saya sibuk mempersiapkan ujian kompetensi yang crraaazzzyy  banget pressure nya. Dan pada akhirnya, setelah kemaren pengumuman kelulusan dan lebaran, saya baru bener-bener sadar that I’m getting married, and it was only 4 months left. What?!

Step back to 6 months before the wedding, I skipped some classes to meet the vendors. Color selection and deciding the wedding theme was the hardest part. I know deep down I love pink but this wedding is just not about me. So I choose other colors that could be timeless. Memilih vendor gedung, dekorasi, dan catering juga rasanya gampang banget tanpa merasa harus mempertimbangkan banyak hal. Gedung, pasti gedung kantor Bapak, dekorasi entah kenapa dibilang sama beberapa orang di salah satu dekor dan yaudah mantep aja gitu (turn out banyak banget dekor-dekor lainnya yang nggak kalah bagus!), dan catering emang keluarga punya langganan tersendiri, yang mungkin belum begitu terkenal diantara katering wedding. Tiga hal yang biasanya paling riweuh ini dengan sederhana terselesaikan. Rasanya bahkan kayak saya nggak berusaha milih sama sekali. Kemudian untuk perias, awalnya saya udah mantep banget sama satu MUA, tapi mengingat pakaian yang saya gunakan adalah pakaian adat jawa-modern dan saya perlu banyak sewa baju jawa untuk keluarga, jadi akhirnya berpindah pada rias manten yang menurut saya cukup oke. Dan ternyata, perjuangan buat dapet rias manten itu challenging ya.  Saya harus ganti tanggal nikah, dari hari minggu ke sabtu, karena mengikuti jadwal rias manten yang saya pilih tersebut (hopefully it would be worth it!).

It was so simple that I questioned myself, then… Did I pour my heart and mind enough for that? This is my wedding. This is an once-in-a-lifetime event. Kok saya nggak segitu konsennya sih tentang itu?

Lalu saya mengalami masa galau-galau yang nggak jelas. Saya merasa banyak vendor lebih baik, merasa I could’ve done better, merasa kurang riset, merasa pilihan –pilihan yang saya buat kurang tepat dan lainnya, disaat saya udah dp semua vendor-vendor tersebut! A crazy moment it was, untungnya saya punya keluarga dan pasangan yang luarrr biasa sabar ( hi there!).

Saya inget-inget lagi di akhir tahun 2016, dimana saya dan pasangan sudah lumayan gencar membicarakan pernikahan, saat itu saya bilang sama dia bahwa menikah itu mempermudah semuanya. Nabung jelas buat berdua, kerja jelas untuk tujuan apa, quality time nggak harus selalu jalan-jalan keluar seharian (yang juga jadi lebih hemat), dan hubungan jadi lebih berkah karena diridhoi Allah. Saat itu saya bilang ke dia, it doesn’t matter that we have a small wedding, cuma dateng ke KUA, Cuma ijab dilihat keluarga besar, or anything; jadi kenapa menunda? Saat itu, saya mulai minta dia (dan ini berlsaya juga untuk saya) untuk lebih rajin sholat malam, minta sama Allah untuk didekatkan apabila kita bener-bener berjodoh dan dijauhkan apabila memang tidak berjodoh, juga diberi petunjuk tentang hal ini. rasanya makin lama malah makin yakin dan alhamdulillah lamaran dia ke Bapak pun diterima.. Finalnya, insyaAllah doa itu terjawab Oktober nanti 

Jadi, saya kembali ke awal. Bahwa tujuan pernikahan ini bukan untuk orang lain, bukan untuk pembaca website the bride dept, bukan untuk cakep-cakepan, atau mewah-mewahan. Ini bener-bener untuk kami berdua, keluarga, dan orang-orang terdekat kami. Pada akhirnya, hal itu bikin saya tenang. Saya cukup bahagia dengan pilihan-pilihan ‘sederhana’ saya. Undangan pake vendor kakak sendiri, foto juga pake vendor kakak, catering pake vendor tetangga, gedung pake gedung kantor Bapak, vendor souvenir oleh saudara saya, dan pilihan simple lainnya. Saya cuma berharap bahwa pilihan-pilihan sederhana ini bisa membawa banyak berkah di hari pernikahan kami nanti karena insyaAllah kami pun berbagi rejeki ke vendor-vendor milik orang-orang terdekat. Saya sekarang cuma bisa banyak berdoa agar acara inti-nya lancar, dan lebih penting lagi, lancar kehidupan kami berdua nanti. Because wedding day is only a day but marriage life is a long-life journey.

Mohon doanya ya!



Next: juggling with what I want, what he wants, what family wants and what vendors can do

Thursday, June 8, 2017

Relationship 101 - What I Learned

One thing that I learned about our relationship for the past year is that how to forgive and forget. At first, I didn’t know how. When my boyfriend made one single mistake that had shaken me profoundly, I thought that was it. I was mad, I cried, I couldn’t talk to him for days, and I couldn’t think anything but giving up. I thought I wanted to give up. But he never ever gave up, not even once. He called me for times, he tried to explain about everything, and I started to want to tell him my story too; why it made me sad, what made me mad, how did I feel about all of these. I was so emotional that I knew, my words might hurt him. Realizing the potential to hurt him at that time, it started to hurt me too. I was neglecting that feeling, something that felt like the something stabbed me right on my chest and it got heavier each time I breathe. But later I realized I got hurt every time I knew I hurt him.

All the efforts and the conversation that we had at that time made me realize that I didn’t want to lose him. I also realized that if I decided to forgive him and let this issue go, we would not have this kind of crazy argument and we might not hurt each other this bad; we would be fine. All the sadness, the burdens, the heavy feelings I carried was all because of me that complicate things. And after realizing all of that, I learned a lot to forgive and forget, then move on. I didn’t have to bring that issue anymore, I didn’t have to blame him for once more, or anything. I have to let go because sometimes it gets too heavy to carry.

But sometime he didn’t understand. He didn’t understand how I choose one thing over another. Why would I make that decision? Or how could I decide something that he thought was not wise enough? I didn’t like being in an argument about something that feels too personal for me so I kept silent. But then, I didn’t think I could be with someone that couldn’t understand that part of me, so I decided to talk about that. if that brought us an argument, then be it.

“I know that you want only the best for me, but what if the best doesn’t make me happy? How do you know that the best thing you talked about makes me happy, even happier than my own decision? I believe that happy people could do almost anything because happiness gives them power. Can you believe in me? Can you believe in what I believe? Can you happy for me, please?”

And I tried so hard to bring my diplomacy skill into higher level. He was hard. He was stubborn. He was right for most of the time and he thought he was right for this too. But I let him know about one thing he hadn’t know before: that someone’s happiness can get really personal and not universal, so he had to respect that even it looked so weird and uncommon, he still had to believe in it. And he started to believe in me, he started to stop forcing his ideas into mine, and started to listen to me even more. Knowing that we’re progressing this far had made me so happy. The fact that I was able to deliver what I really wanted to say and wanted to do, which I was lacking in my previous relationships,made me happy too. I finally learned to communicate better too in this relationship.

I know I still have a long journey full of ups and downs ahead, but I know no one that fit me better than he does, so I thought, the journey must be worth it.

Thursday, April 6, 2017

The Wedding Journey - Prologue

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kok nina cepet banget sih… padahal kan pacarannya barusan?

Aku percaya tiap orang punya prinsip dan prioritas masing-masing, kebetulan aku anaknya kalo soal hal-hal penting dalam hidup pegangannya agama. Aku nggak mau pacaran lama-lama karena itu nggak ada tuntunannya dalam agama.. Walaupun aku juga ketemu dia cuma sebulan sekali dan biasanya cuma hari sabtu dengan jam malem jam 8.30 malem, tapi ya tetep aja dalam agamaku nggak ada pacaran. Terus kenapa nggak bisa untuk nggak pacaran sama sekali? Ya sayangnya imanku belum sekuat itu. aku belum bisa percaya sama stranger untuk langsung nikahin aku. aku merasa butuh ‘kenal’ sama calon pasanganku sebelum memutuskan untuk jadi pasangan seumur hidup.

Awalnya dia merasa punya target finansial yang ingin dia capai sebelum nikah sama aku.  Tapi ya karena aku udah niat nggak mau pacaran lama itu tadi, jadi aku bilang ke dia bahwa aku nggak nikah buat cari hidup enak mapan kayak princess, yang kalo emang aku cinta banget sama hal itu (aka keindahan duniawi dalam bentuk material) ya aku nggak akan mau nikah cepet start from zero. Aku Cuma pengen nikah sama dia karena aku emang nggak pengen pacaran lama dan kebetulan aku udah ngerasa bahwa pencarian aku stop di dia, aku merasa aku bisa nih grow old sama dia, terus mau ngapain lagi? Menurutku akan ada banyak hal yang jadi jauh lebih menyenangkan ketika kita berdua tumbuh bareng daripada sendiri-sendiri.

Di sisi lain aku bilang juga bahwa kalo dia memang merasa belum mampu atau belum pengen nikah ya nggak papa, tapi nggak usah pacaran sama aku lama-lama.  Ya temenan aja, jadi nggak wajib ngabarin mulu, ketemu sebulan sekali, jalan bareng dll dll. Terus aku bilang sholat (malam) dulu, doa yang banyak, minta diyakinkan. Aku waktu itu udah ngerasa pasrah, sih. Walaupun terdengar aneh, tapi aku bener-bener mutlak nggak pengen pacaran lama,jadi kalo dia belum siap ya aku yang harus siap-siap ikhlasin dia. Lalu abis itu, beberapa hari kemudian dia yang malah seyakin itu dan ngajakin aku nikah taun ini.

Sekali lagi, aku pasrahin aja sama Allah. Aku berdoa yang banyak.. aku minta petunjuk. Abis aku curhat banyak sama  Allah tentang hal itu, aku baca Al Quran dan baca ayat ini:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(QS. An Nuur (24) : 32)

Wah gila, abis itu rasanya kayak dapet jawaban banget. kayak, apalagi sih, Nin yang bikin ragu? Ada laki-laki baik bertanggungjawab, insyaAllah ibadahnya baik, dateng nih mau nikahin. Ngapain sih ditolak-tolak atau ditunda-tunda Dan bismillah,abis itu aku bilang ke dia dan kita mulai rencanain semuanya, dari dia bialng ke ayahku sampai pertemuan keluarga dan planning panjang tentang goals kita di life after marriage. Apa udah yakin 100% mampu jadi istri dan calon ibu yang baik? Ya belum. Makanya aku rajin doa dan belajar tentang itu . Minta disiapkan sama Allah, terus lebih sering belajar agama, belajar untuk ibadah lebih baik lagi, karena buat aku semua yang dasarnya agama insyaAllah berkah.

Tapi mungkin kalo orang mikirnya practical ya ini sangat nggak ideal sih. Kayak di penjelasan aku ini, aku banyak ngomongin ttg faith aku, ttg belief aku, yang susah diaplikasikan sebenernya. Kayak,gimana lo yakin nikah sama orang padahal lo masih way too young? Atau masih banyak keinginan? Atau mungkin masih harus LDR? Buat apa? Kok bisa-bisanya nikah padahal belum kerja sendiri? Belum bisa biayain nikah sendiri? Dll dll. Tapi sekalilagi, emang latar belakang keinginanku banyak dipengaruhi sama kepercayaanku sih,. Aku tapi nggak mau bahas banyak ttg tuntunan agama secara lebih detail karena aku memang nggak pengen bikin post tentang ketentuan-ketentuan dalam Islam atau menggurui nyuruh semua orang nikah, karena itu adalah hal yang sangat penting dan sangat personal, jadi ya orang lain nggak bisa maksain. Aku Cuma pengen sharing aja tentang hal ini.

Terus gimana sama studi aku kedepan? Cita-cita aku? Cita-cita dia? Ya nggak gimana-gimana. Kita tetep on track buat berusaha dapetin itu semua. Aku percaya sih kalo berkeluarga insyaAllah bukan penghalang. shifting di prioritas pasti ada, tapi itu bukan tanda mutlak kita harus berhenti. Alhamdulillah, dia anaknya mau berkembang dan dukung aku buat berkembang.

Sampe sekarang aku masih belajar sih, masih berdoa juga buat kelancaran kearah sana. Dan mungkin bener kata orang, makin kita serius makin banyak cobaannya hahaha. Kalo kata sahabatku sih, “nikah itu kan ibadah, setan nggak suka liatnya terus berusaha gangguin deh.” Obatnya adalah berdoa berdoa berdoa. Minta diyakinin, minta dilancarkan, dan minta semuanya. Allah Maha Memberi,kok.