Sejak awal, ibu saya selalu bilang kalau nikahan saya bakal jadi nikahan yang sederhana di balai desa aja. Jadi ketika memutuskan untuk menikah, saya udah punya list 20 tamu undangan yang saya ingin undang, karena saya pikir undangannya bakal 100an undangan aja, include keluarga. Ketika down-sizing temen-temen sampai angka 20, saya Cuma mikir: siapa yang selama ini selalu ada buat saya di saat-saat suka duka saya selama ini. (I’m not kidding. Saya juga baru tahu kalau nikahan saya bakal di gedung ketika mempersiapkan lamaran.)
Buat saya, tamu undangan itu bukan tentang seberapa banyak, atau absen dari temen TK sampai temen kerja, atau lainnya. Saya Cuma butuh orang-orang yang ketika datang ke nikahan saya, bisa ikut bahagia liat saya akhirnya berakhir dengan orang yang saya sayangi dan kemudian mendoakan untuk keberkahan kehidupan keluarga saya nantinya. Takutnya, orang-orang yang tidak tau perjuangan saya untuk sampai di posisi ini mungkin kurang bisa merasakan bahagianya saya.
My bridesmaid are my priorities, kalo nikahan saya Cuma akad, ya mereka lah yang saya undang. Each one of them knows my struggles and everything else. Saya percaya mereka bisa ikut merasakan kebahagiaan saya dan itulah hal yang terpenting.
Saat memperiapkan pernikahan seperti ini, rasanya pengen banget jadi super perfeksionis. Pengen A, B, D, E, F, G, eh lupa C-nya, dan lainnya.. dan disaat-saat kayak gitu, biasanya saya Cuma bisa nangis aja, karena panik sendiri. Mempersiapkan pernikahan sendirian while I’m still having a full-time job from 8-4 dengan pacar bekerja jauh itu nggak sederhana. Senengnya, saya punya keluarga yang sanagt supportive dan temen-temen yang bisa saya minta bantuannya.
Dari awal, saya tidak punya dream wedding karena ibu saya bilang nikahan saya ya hanya kecil-kecilan. Kemudian jadi sedikit membesar, saya juga masih tidak punya gambaran apa-apa. Saya pun rajin browsing di pinterest dan Instagram, lalu saya sadar satu hal. Benar kata sebuah artikel disini, bahwa Instagram membuat standar pernikahan di Indonesia jadi naik banget.. setelah dipikir, bener juga sih. Dulu, orang hanya fokus pada perayaan sekian jam yang digelar. Sekarang, orang fokus pada foto-foto pernikahan yang di pajang di Instagram. Saya percaya setiap orang punya prioritas masing-masing, walaupun untuk saya hal tersebut bukan prioritas, tapi saya mengerti betapa pentingnya hal tersebut bagi beberapa orang.
Hari itu, saya ngobrol sama temen saya,
“aku nggak mau punya nikahan mewah, yang didatengin semua orang, tapi mereka nggak tau betapa pentingnya hari itu buat aku. Aku nggak mau, asal dekornya mewah, makanannya fancy, tapi acaranya nggak dirasa sakral. Aku pengen orang yang dateng, sesederhana apapun nikahanku, merasa bahwa nih lho, Nina dan pasangannnya abis janji atas nama agama, untuk barengan sama orang ini, bagaimana pun keadaannya nanti. Aku pengen tamu yang hadir ikut bahagia karena orang tuaku punya mantu. Pengen aja mereka yang dateng ikut bahagia karena vibe-nya.”
Dan temen saya pun mengamininya.
Sekali lagi, prioritas orang itu beda-beda. Sah-sah saja untuk menggelar pernikahan yang kita idam-idamkan. Hanya saja menurut saya, ada hal-hal penting yang tidak boleh dilupakan disaat kita sibuk mempersiapkan pesta besarnya: bahwa janji kita kepada Allah itu yang utama, dan bahwa setelah ijab qabul kita akan diikuti oleh hak dan kewajiban yang baru, jangan lupa juga ikut dipersiapkan.
No comments:
Post a Comment