Three months before my wedding day and I started to feel overwhelmed by feelings.
Saat pertamakali memutuskan untuk menikah, Bapak lagi punya sejumlah pekerjaan, setelah sebelumnnya sering muncul di TV for some reasons. He was so busy, we could hardly meet to discuss things. Ketika mempersiapkan lamaran pun, saya lagi sibuk mempersiapkan ujian stase terakhir, jadi saya nggak begitu into it. Saat itu saya bener-bener ‘terserah’ dan ‘asal jalan’ deh (but thanks to my in-law who prepared almost everything into details! Hands down!) Lalu setelah lamaran pun, saya sibuk mempersiapkan ujian kompetensi yang crraaazzzyy banget pressure nya. Dan pada akhirnya, setelah kemaren pengumuman kelulusan dan lebaran, saya baru bener-bener sadar that I’m getting married, and it was only 4 months left. What?!
Step back to 6 months before the wedding, I skipped some classes to meet the vendors. Color selection and deciding the wedding theme was the hardest part. I know deep down I love pink but this wedding is just not about me. So I choose other colors that could be timeless. Memilih vendor gedung, dekorasi, dan catering juga rasanya gampang banget tanpa merasa harus mempertimbangkan banyak hal. Gedung, pasti gedung kantor Bapak, dekorasi entah kenapa dibilang sama beberapa orang di salah satu dekor dan yaudah mantep aja gitu (turn out banyak banget dekor-dekor lainnya yang nggak kalah bagus!), dan catering emang keluarga punya langganan tersendiri, yang mungkin belum begitu terkenal diantara katering wedding. Tiga hal yang biasanya paling riweuh ini dengan sederhana terselesaikan. Rasanya bahkan kayak saya nggak berusaha milih sama sekali. Kemudian untuk perias, awalnya saya udah mantep banget sama satu MUA, tapi mengingat pakaian yang saya gunakan adalah pakaian adat jawa-modern dan saya perlu banyak sewa baju jawa untuk keluarga, jadi akhirnya berpindah pada rias manten yang menurut saya cukup oke. Dan ternyata, perjuangan buat dapet rias manten itu challenging ya. Saya harus ganti tanggal nikah, dari hari minggu ke sabtu, karena mengikuti jadwal rias manten yang saya pilih tersebut (hopefully it would be worth it!).
It was so simple that I questioned myself, then… Did I pour my heart and mind enough for that? This is my wedding. This is an once-in-a-lifetime event. Kok saya nggak segitu konsennya sih tentang itu?
Lalu saya mengalami masa galau-galau yang nggak jelas. Saya merasa banyak vendor lebih baik, merasa I could’ve done better, merasa kurang riset, merasa pilihan –pilihan yang saya buat kurang tepat dan lainnya, disaat saya udah dp semua vendor-vendor tersebut! A crazy moment it was, untungnya saya punya keluarga dan pasangan yang luarrr biasa sabar ( hi there!).
Saya inget-inget lagi di akhir tahun 2016, dimana saya dan pasangan sudah lumayan gencar membicarakan pernikahan, saat itu saya bilang sama dia bahwa menikah itu mempermudah semuanya. Nabung jelas buat berdua, kerja jelas untuk tujuan apa, quality time nggak harus selalu jalan-jalan keluar seharian (yang juga jadi lebih hemat), dan hubungan jadi lebih berkah karena diridhoi Allah. Saat itu saya bilang ke dia, it doesn’t matter that we have a small wedding, cuma dateng ke KUA, Cuma ijab dilihat keluarga besar, or anything; jadi kenapa menunda? Saat itu, saya mulai minta dia (dan ini berlsaya juga untuk saya) untuk lebih rajin sholat malam, minta sama Allah untuk didekatkan apabila kita bener-bener berjodoh dan dijauhkan apabila memang tidak berjodoh, juga diberi petunjuk tentang hal ini. rasanya makin lama malah makin yakin dan alhamdulillah lamaran dia ke Bapak pun diterima.. Finalnya, insyaAllah doa itu terjawab Oktober nanti
Jadi, saya kembali ke awal. Bahwa tujuan pernikahan ini bukan untuk orang lain, bukan untuk pembaca website the bride dept, bukan untuk cakep-cakepan, atau mewah-mewahan. Ini bener-bener untuk kami berdua, keluarga, dan orang-orang terdekat kami. Pada akhirnya, hal itu bikin saya tenang. Saya cukup bahagia dengan pilihan-pilihan ‘sederhana’ saya. Undangan pake vendor kakak sendiri, foto juga pake vendor kakak, catering pake vendor tetangga, gedung pake gedung kantor Bapak, vendor souvenir oleh saudara saya, dan pilihan simple lainnya. Saya cuma berharap bahwa pilihan-pilihan sederhana ini bisa membawa banyak berkah di hari pernikahan kami nanti karena insyaAllah kami pun berbagi rejeki ke vendor-vendor milik orang-orang terdekat. Saya sekarang cuma bisa banyak berdoa agar acara inti-nya lancar, dan lebih penting lagi, lancar kehidupan kami berdua nanti. Because wedding day is only a day but marriage life is a long-life journey.
Mohon doanya ya!
Next: juggling with what I want, what he wants, what family wants and what vendors can do
No comments:
Post a Comment