Sudah 14 bulan tepatnya, aku jadi Ibu. Peran yang aku kira, aku sudah sangat amat hati-hati dalam setiap langkahnya. Dulu waktu masih praktek, tugasku 'cuma' perlu lihat guideline untuk menangani pasien, tapi enggak gitu ceritanya saat jadi Ibu. Setelah setahun jadi Ibu, aku baru sadar, bahwa jadi ibu hanya butuh lihat anak kita sendiri, baru dicocokkan dengan guideline. Aku tuh telat banget, lho, sadarnya. Akibatnya, aku dulu sering tantrum karena anak nggak sesuai teori hahahaha.
ASI
Dulu aku take it for granted banget soal ASI. Tau-tau cukup aja gitu, nggak ada drama yang berarti. Nggak pernah seret banget, nggak pernah mastitis, BB naik sesuai grafik (tapi kayaknya di Indo bayi-bay ini naiknya harus sedikit lebih dari kebutuhan grafik nggak sih? target kenaikan BB oleh beberapa DSA yang kutau pada wow aja gitu). Akunya aja yang bikin drama sendiri karena anakku emang tipe yang tiap 1-2 jam banget nen nya, disaat yang lain tiap 3-4 jam, plus di UK kan ngga ada tempat menyusui sebanyak itu yah... Kemudian drama terjadi ketika aku cobain anakku sufor soya baru-baru ini dan ternyata dia nggak cocok, muntah-muntah. Tiap hari kucoba, ku adjust volume dan cara pemberian, tiap hari juga muntah selama hampir 3 minggu. huft. Aku cek feses, ternyata ada darah samar, yaaaaa berarti nggak bisa kuksaih soya ini. Anakku emang ada alergi susu sapi, dengan gejala pencernaan. Pada anak dengan alergi susu sapi, ada sebagian yang juga alergi protein soya, jadi yaaa.... Harus balik ASI. Saat mau balik ASI, ASI ku tinggal tetes tetes... nggak lebay hahhaa. Seharian cuma bisa ngasih 10-20 ml aja tuh awal-awal :') agar kenyang, tiap jam snack kukasih snack yang buanyaakk.. baru nen lanjut aku pompa. Aku pun kemudian merasakan power pumping 2 kali sehari, dan pumping 4-6 kali diluar itu... fast forward 1 bulan kemudian, atas izin Allah ASI ku cukup untuk sehari, masih power pumping dan pompa :')
MPASI
Sungguh aku menyesal nggak memaksimalkan momen pemberian ASI yang masih memenuhi 50-90 persen kebutuhan kalori bayi 6-12 bulan. Dulu, aku fokussss banget sama MPASI-nya, eh yang dibilang fortifikasi bagus malah bikin anakku susah naik BB nya sesuai KBM karena turned out dia ada alergi susu sapi. Itu pun aku taunya setelah 2 bulan kasih MPASI (menurutku fortifikasi ngga sempurna juga walaupun udah terstandar gizinya :D). Nyesel juga karena aku nggak responsive feeding. Aku fokus sama aturan dan jadwal sesuai teori, tanpa aku liat lagi kesiapan anakku. Banyak sih yang aku sesali tentang MPASI ini, tapi aku rasa ini juga jadi momen bonding aku sama anakku buangeeet.. Everything happens for reasons:D
Mulai Sakit
Setelah balik ke Indo, kukira hidupku akan bahagia. Period. Ternyata.... anakku mulai sakit-sakit dan cukup bikin aku kurang bahagia sih... Alergi susu sapi yang bikin pupnya aneh-aneh, suka muntah, plus ada GER, dilanjutkan dengan diare, ISK dan pneumoni... udah kayak ujian jaman koas :( ternyata, anak sakit bertubi-tubi tuh bikin capek mental banget, ya.... udah gitu pasti BB ikut bermasalah. Growth chart anakku yang nggak sesuai dengan ideal bikin beberapa dokter anaknya panik, ada yang sampe bikin aku ikut panik dan nggak nyaman... Pelajaran banget, bahwa ternyata cari dokter anak tuh bukan cuma yang pinter tapi yang bisa membuat orang tua nyaman, apapun itu kriterianya, karena tiap orang tua kan standarnya beda-beda ya.. Dan percayalah, semua orang tua tuh sudah berusaha yang terbaik within their capacities, tapi kalo Allah kasih cobaan atau rezeki, semua yang atas kuasa Allah, nggak cuma tentang usaha orang tuanya :D
Motherhood
More than anything, i feel so blessed and grateful for the past year. cobaan yang Allah beri ternyata bikin aku makin percaya diri menjadi ibu dari anakku, membantuku lebih empati terhadap ibu-ibu lainnya, mendekatkanku dengan Allah juga membuat komunikasi aku dan suami jadi lebih baik. Aku bilang sama Harfin kemarin, "punya anak tuh capek banget ya... tapi seneng banget juga!" Sekarang udah bisa fokus create moment sama anakku, instead of thinking only about her growth and development while i seek for approval that i'm good enough. Sekarang lebih berusaha mendengarkan dia, menjaga emosiku, dan menyayangi dia sepenuh hati, karena kayaknya itu salah satu indikator yang bisa kuukur dalam usahaku jadi ibu yang baik.
Depression
On my lowest point, to the moment that Harfin cant even understand, i seek help from professionals via online. After few sessions, she made it clear that it was depression. At first she didn't think i need medications, but then few consults later, she advised me to take some. That is the moment when i cried it out with Harfin about everything, because i need him to be with me through it. Every medication has side effects, and i need him to be ready with that if i ever take it. After long discussion i decided to not take it, because i dont think we're ready with the side effects (even it's just tiny probability, but if it happens, i dont think we're ready yet). He helped me so much and i still have online sessions with my psychiatrist just to make sure i got it undercontrol. Ohya, di aku, gejalanya aku suka menyalahkan diri sendiri dan nangis, simple nya gitu :D
Through its ups and downs, it's truly been such a beautiful journey with you, my dear daughter <3