Saya waktu diceritain gitu, awalnya Cuma ketawa-ketawa dan merasa nggak salah. Saya pikir, lah ini kan urusan perempuan. Tapi melihat dia serius sama ucapannya, saya jadi mikir. Kalo saya terus-terusan mengkotak-kotakkan pekerjaan perempuan dan laki-laki, apa nggak malah saya bikin hubungan ini jadi nggak berkembang? Keterusan membagi-bagi mana porsi perempuan dan laki-laki bisa bikin kami nggak kompak as a team, karena bawaannya: lah ini kan kerjaan laki-laki, sedangkansaya kan perempuan, dan sebaliknya.
Sebenernya ini adalah hal sepele, tapi bakal kerasa banget efeknya kalo pas mau nikah gini karena ada banyak banget hal yang harus dikomunikasikan dengan mood baik oleh kedua belah pihak. Dan pada akhirnya, saya belajar untuk mempercayakan beberapa hal padanya. Hasilnya? Saya jadi sangat terbantu dan lebih bahagia jalaninnya. Saya merasa dia ikut bagian dalam acara ini, saya mendengar ide-ide dia lebih banyak, dan pada akhirnya saya jadi lebih banyak tau tentang dia. Bahkan, saya kadang amazed sendiri sama selera dia yang lebih bagus dari saya (contohnya: tentang desain cincin nikah dan baju untuk seserahan).
Walaupun begitu, hal ini balik lagi ke pasangan masing-masing. Kebetulan pasangan saya anaknya pengen ikut terlibat dan diskusi. Tapi, mungkin ada yang super sibuk sampai menyerahkan semua ke pihak wanita atau keluarga. Semua bener-bener balik ke pasangan masing-masing. Saya Cuma nggak ingin pasangan lain punya masalah komunikasi yang sama dengan saya, sehingga sebaiknya semua dijabarkan dari awal. Apakah ada pembagian tugas, bagaimana pihak pria dan keluarga pria ingin terlibat dalam urusan persiapan pernikahan dan lainnya. walaupun keliatan simple dan sepele, tapi sejujurnya ini nggak mudah buat kami, apalagi sambil LDR!
No comments:
Post a Comment