Saturday, December 21, 2019

Kehamilan dengan Toksoplasmosis / Toxoplasmosis in pregnancy



Hari ini aku ingin bayar hutang cerita tentang perjalananku hamil dengan toksoplasmosis. Aku yakin, bumil lain yang juga didiagnosis serupa mengalami perasaan yang luar biasa campur aduk, karena di satu sisi happy dengan kehamilannya, di sisi lain penuh dengan kekhawatiran. InsyaAllah, niatku cerita agar bumil-bumil lain melihat sisi positif dari 'perjuangan' ini, dan menyadari bahwa atas kehendak Allah, nggak ada yang nggak mungkin. InsyaAllah kita diberi jalan untuk mendapatkan keturunan yang sehat fisik dan mental, lahir dan batin. aamiin.

Bulan Agustus 2018, saya dinyatakan hamil 5 minggu. Seperti yang sudah saya rencanakan sebelumnya, saya berniat test TORCH. Test ini sebaiknya dilakukan saat promil, agar jika ketauan bisa langsung di treatment. Tapi, kebetulan saya belum bener-bener serius promil jadi belum test, maka dari itu saya langsung test saat hamil. Penting nggak sih untuk semua bumil? Jujur, ngga tau :') mungkin tergantung faktor risiko ya, seperti suka membersihkan kandang kucing, suka makan daging setengah matang, suka makan sayur mentah (loh ini kan lalapan?!). Kalau aku emang udah niat cek sih, dan qadarullah, dengan cara ini Allah memberi tahu aku bahwa aku berisiko menularkan penyakit ke anakku. Tahun itu total biayanya sekitar 2 juta plusplus di lab prodia.

Beberapa hari setelahnya hasil testku keluar, Rubela IgG +, CMV IgG +, dan Tokso IgG + IgM +. IgG menggambarkan past infection alias infeksi yang udah kita lewati sebelumnya, jadi bisa diabaikan asal IgM nya negative. Nah, tapi Tokso-ku ini IgM nya ikut positive. Yang kulakukan pertama adalah... konsul. Kebetulan aku dokter, jadi konsul ke temen dokter dan minta di konsulin ke Sp.Og yang dia kenal. Jawabannya makin bikin patah hati, nggak solutif. Jadilah aku nangis sehari semalam. Aku langsung minta izin dari puskesmas selama 1 minggu, aku mau ke jakarta/jogja cari dokter fetomaternal.


Lalu aku inget, aku adalah pasien lama dr Rukmono (obgyn-fetomaternal), dari aku SMP karena menstruasiku nggak teratur. Aku juga mahasiswa beliau dan hampir ngerjain skripsi sama beliau jadi kebetulan aku punya nomer hapenya. Aku hubungi beliau, menanyakan hasil lab. Sejujurnya nggak berharap banyak, secara beliau sibuknya banget banget, tapi yaudah dicoba aja. Ternyata beliau merespon, dan memintaku untuk cek IgG avidity. Beliau tenang banget, kasih tau aku dengan jelas. Intinya bilang, untuk cek avidity, kalo rendah ya minum obat selama hamil, kalo tinggi kemungkinan aman. No judgement at all (nggak kayak previous obgyn huft).



Keesokan harinya aku ke Jakarta sama suami, karena dia cutinya habis dan harus kerja. Hari itu juga disempetin cek lab, dan besoknya dapat hasil bahwa aviditasku rendah, jadilah udah harus minum obat. Tapi, aku harus ketemu dokter dulu biar bener-bener konsul dengan jelas. Saranku, cari dokter obgyn sub spesialis fetomaternal ya. Karena, penyakit ini membawa risiko kelainan bawaan pada janin, dan konsultan fetomaternal udah ngerti banget untuk deteksi dini hal ini. Minimal, dokternya nggak panik ketemu diagnosis ini karena lebih sering menangani. iya, dokter pun bisa panik lho. Saat itu aku udah booking obgyn di jakarta, tapi entah kenapa kurang sreg, akhirnya memaksakan untuk periksa di dokter rukmono di Jogja. Dulu nggak separah sekarang sih, ngantri sampe 3 bulan :')

Alhamdulillah, setelah ketemu dokter ku di jogja ini, aku legaaaa bangeet. Jujur masih takut dan masih suka nangis, tapi jauh terbantu. Kenapa? karena diberitau dengan sangat jelas. kurang lebihnya gini:

dokter: "kamu minum obat ini ya 3 kali sehari sama vitamin, asam folatnya dosisnya saya tinggikan ini, diminum selama hamil, jangan telat."
pasien: "ini dosisnya bener segini ya dok? kayaknya di jurnal segini, dok?" iya, aku ngeyel sama konsulen. bukannya aku bangga, tapi aku bener-bener sekhawatir itu sama kandunganku, dan aku menggambarkan bagaimana dokter ini terbuka dengan diskusi. Lagipula, ada perbedaan hitungan obat di jurnal dan di Indonesia (IU dan mg).
dokter: *cek lagi* "bener kok."
pasien: "dok ini kehamilan saya nggapapa?"
dokter: "iya, nggak papa. kemungkinan tertular ke bayi masih sangat rendah di trimester awal, apalagi dengan minum obat. ini belum keliatan, sih. tapi kayaknya baik-baik aja."
pasien: "dok, dokter nggak cuma ngeyem-yemin aku aja kan dok?"
dokter: "loh, tapi kamu butuh di yem-yemin kan?"
huaaa. iya banget T.T

Dannn berlanjutlah checkup tiap bulan terbang dari lombok ke jogja. di cek lengggkaaap banget karena emang mengatasi kekhawatiran adanya penularan penyakit. terakhir, aku izin ke dokterku karena mau ke Inggris. Beliau mengingatkan untuk test darah anakku dengan cord blood untuk tau apakah dia tertular engga. kalo tertular ya 'tinggal' minum obat aja T.T kemudian mulailah perjalanan medis di Inggris dengan NHS ku..

Disana, semua ibu hamil punya service ke puskesmas dan dengan midwife. Pertama-tama di cek semuanya sampe HIV dan Sifilis, karena itu juga menular ke bayi. Kemudian aku bilang aku ada tokso, dengan semua hasil lab, dirujuklah aku ke dokter spesialis. Di RS, ketemu bidan lagi, dan dia nggak ngeh aku harus ketemu spesialis, jadi aku utarakan kemauanku dan kebutuhanku, kita diskusi dulu baru dia manggil dokter jaganya. Kebetulan, dokter spesialis ini (mungkin) kayak chief residen gitu, belum bener-bener paham, akhirnya aku di rujuk ke sub spesialis fetomaternal (beda deh namanya disana, cuma aku lupa) untuk next appointment.

Di dokter selanjutnya (sub spesialis fetomaternal), aku dilakukan pemeriksaan lagi. untungnya, sebelumnya aku dengan sub fetomaternal juga, jadi data-datanya rinci dan lengkap, beneran rinci bangetttttttt.... beda sama ke obgyn biasa. kalau memang ada masalah memang sebaiknya ke fetomaternal sih menurutku.. Lalu seperti biasa, paling lama dan teliti setelah ukur-ukur bayi adalah cek kalsifikasi di otak. as long as there's no calcification, they'd be happy. lalu advice nya adalah melanjutkan obat antibiotikku sebelumnya. sayangnya, obatnya tidak available di UK wkwkwk, jadi harus nunggu impor yang datengnya bulan depannya. Alhamdulillah aku udah nyetok super banyak jd insyaAllah cukup sampe lahiran.

Fast forward ke post natal, aka setelah lahiran. Alhamdulillah lahiranku dengan normal, lancar. Seperti plan yang sudah ditulis di rekam medis, bahwa anakku akan diambil darahnya untuk di cek apakah ada IgG IgM toksonya. eh tapi disana nggak ada test direct untuk melihat itu, jadi testnya mirip mirip gitu tapi hasil nya juga menunjukkan ada atau engganya infeksi. Kemudian aku dirujuk ke dokter spesialis Mata konsulen anak, untuk melihat ada kelainan bawaan di mata engga, karena tokso juga bisa berimbas ke mata. Alhamdulillah, engga ada. Disana semua bayi baru lahir juga di cek fungsi pendengarannya, ini juga salah satu concernku tentang tokso dimana bisa menyerang fungsi pendengaran telinga, dan alhamdulillah aman juga. Disana, anakku juga rutin ketemu dokter spesialis anak konsulen infectious disease. baik bangettt huhuhu. namanya dr Laura Jones T.T beliau mendengarkan dengan attentive, mencatat, mengingat informasi yang sebelumnya aku beri, ngecek dulu ke rekam medis elektronik data-data yang beliau butuhkan baru tanya dan akhirnya menyimpulkan, mau banget diskusi dalam waktu appointment kita. ya kalo telat ya tentu buru-buru, tapi biasanya cukup banget! Bahkan aku cerita tentang keluhanku selain tokso aja ditanggepin banget huhuhu terharu banget, belum nemu dokter anak sebaik dan sebagus beliau. Anakku memang udah aman dari test darah pertamanya, tapi kemudian anakku juga di test IgG serial, karena IgG pasti cross placenta, jadi anak pasti bawa tuh IgG darii darah ibunya yang sedang terkena tokso, tapi trend kadar IgG nya harus turun, jadi di cek terus. di UK, di cek sampe 18 bulan. Selama ini anakku alhamdulillah trend IgGnya turun.

Alhamdulillah, sampailah aku pada akhir cerita toxoplasmosis in pregnancy ini bahwa insyaAllah anakku tidak membawa penyakit toksoku. Udahlah, aku udah siap dengan worst case banget, moodku selama hamil naik turun, ditambah gempa lombok dan ditinggal suami sekolah. Tapi qadarullah, Allah masih izinkan aku untuk punya anak yang terbebas dari tokso, alhamdulillah.

Mungkin ada beberapa yang bertanya-tanya, dapet darimana? aku tuh nggak suka kucing jadi kayaknya bukan dari kotoran kucing/tanah. Tapi bulan sebelumnya aku makan daging setengah matang (gyukatsu dan sate?) juga sering makan lalapan, huallahualam sih yang mana yang menyebabkan, ngga ada yang tau juga kan... jadi aku selalu ingin bumil hati-hati sama makanan belum mateng :") bukannya nakut-nakutin lho....


Untuk ibu hamil di luar sana yang mengalami hal yang sama seperti aku, semangat ya... tenang, ini bukan akhir dari dunia. berbahagialah diberi kesempatan mendapat ujian tambahan ini,  berarti Allah percaya kita bisa melalui ini. Selain itu bonding dengan janin dan suami pasti jadi lebih erat dan insyaAllah ini akan meningkatkan rasa syukur kita dan kedewasaan kita. ada beberapa saranku:
1. sebisa mungkin ke fetomaternal, kalau sulit, selama hamil sekaliiii aja nggapapa..
2. cari dokter yang juga membuat kita nyaman hati dan pikiran. karena aku yakin ini stressful banget. tiap mau ke dokter aku nangis takut, jujur.... padahal dokterku enak banget jelasinnya.
3. kalau ngga siap denger omongan orang, simpan info ini untuk diri sendiri dan keluarga terdekat.
4. minum obat teratur dari awal kehamilan bisa menurunkan risiko penularan.
5. jangan terlalu banyak baca yang negatif-negatif, cari kesibukan yang bikin happy aja:')
6. do'a, do'a, do'a. semua bisa karena Allah.




Wednesday, November 6, 2019

Rekomendasi Permainan Bayi Sesuai Usia



https://drive.google.com/uc?export=view&id=1AAj1xLcu4wOTIH1k_GnbY5txiI16RTXn

Mengawali hidup dengan anak di UK, bikin aku super hemat soal mainan. Selain karena ngga tau kalau banyak mainan second dijual di jack n jill, susah nemuin mainan anak semurah dibawah 50ribu per item. Karena keterbatasan stipend untuk hidup dari beasiswa dan banyak kebutuhan primer anak (dan ortu) yang harus dipenuhi, akhirnya urusan mainan lumayan terbengkalai hahahahaha. Jadi, ini mainana versi minimalisku, entah udah cukup minimalis belum untuk orang lain, tapi cukup minimalis buatku. Selama ini anakku lebih suka main tatap-tatapan sama aku juga, jdi jarang banget bisa main sendiri yang lama hahahaha.

Nah, ini list nya, kusesuaikan dengan umur ya!

0-3 bulan: bayi masih suka tidur, waktu bermainnya juga sedikit, sehingga ngga banyak permainan yang bisa kita tawarkan. Tummy time menjadi salah satu pilihan permainan sekaligus latihan menguatkan otot dan tulangnya. Hal ini bisa dilakukan di dada ibu atau di playmat. Tummy time bisa dimulai sejak 2 minggu di dada/perut ibu, untuk beberapa menit hingga nanti bisa diletakkan di playmat hingga 20-30 menit. pastikan playmat kita cukup empuk dan aman digunakan. Tips dari aku, pilih playmat yang bisa jadi bahan dekorasi, atau bisa dilipat, pakai karpet biasa pun bisa asal rajin membersihkan debunya, karena momen menggunakan playmat (tipis) itu cukup penting tapi sebentar. Beri boneka atau buku dengan warna mencolok, dan permainan berbunyi (rattle) untuk melatihnya menengok kanan dan kiri. jaga bayi kita, karena bisa aja dia susah nafas atau kepalanya jatuh saat mendongak karena belum kuat betul. Bisa dibantu dengan bantal menyusui, atau bantal apapun yang C shape untuk bantu anak kita mengangkat kepala.


list mainan 0-3 bulan
-playmat
-boardbook hight contrast
-rattle
-bantal c-shape
- boneka

3-6 bulan: dia udah mulai fase oral, sehingga memberikan teether yang menarik, mudah digenggam juga memanjakan gusinya cukup penting. Rattle dan buku masih suka dimainin, paling enak sih puny buku yang juga mengeluarkan suara, karena dia bisa sibuk bolak balik boardbook sambil dengerin lagunya. Juga bisa menggunakan soft book yang bersuara, kalau soft book bisa digenggam kuat Tummy time bisa dilanjutkan sambil stimulasi untuk berguling ke kanan dan kekiri. Harap lebih hati-hati juga yah karena rawan jatuh.

list mainan 3-6 bulan:
-playmat
-rattle
-boardbook bersuara
-soft book 
-teether
- boneka

6-9 bulan: bayi mulai merangkak, duduk sendiri dan latihan berjalan. Baby walker sudah tidak disarankan penggunaannya, bisa diganti dengan stroller untuk bayi, maupun benda lain yang bisa didorong oleh bayi. Saat ini dia butuh berlatih berjalan dengan tumpuhan (rambatan), tapi juga harus aman, sehingga playmat dengan pagar bisa jadi pilihan. 

list mainan 6-9 bulan:
-playmat berpagar
-teether
-boardbook
-softbook
-rattle
- mainan yang bisa didorong (ini macem-macem banget! pastikan kuat saat dijadikan tumpuan oleh bayi ya)


Sementara itu dulu ya, cukup sedikit bukan hahaha gatau deng kalo menurutku sih dikit yah.. Nanti aku update lagi seiring berjalannya waktu ya!

Tips Long Haul Flight With A Baby

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1RIayYhtbTD7jrKoitfDuqWs6bHMkWLkk

Kemarin, aku dan keluarga harus pulang dari UK ke Indonesia. Mau nggak mau, ya melewati naik pesawat (plus transit) 25 jam. Seperti orang tua lain, aku dan suami khawatir juga, gimana ya anakku, masih bayi 5 bulan harus naik pesawat lama. Tapi alhamdulillah, semua berjalan muluuusss. Ya, tetep ada rewel-rewelnya sih, cuma karena aku sudah merasakan anakku rewel selama perjalanan di kereta London-Edinburgh 5 jam, jadi semua rasanya ngga ada apa-apanya 🤣 

Ini ada beberapa tips saat terbang dengan durasi panjang bersama bayi. This worked on me, but might work or not work on you. Diambil baik ya yah ❤️


1. pilih jam terbang sesuai jam tidur anak. sebisa mungkin waktu transit minimal tapi ngga bikin lari-larian karena pr juga nyari gate dan melewati pemeriksaan ini itu.
2. cek maskapai, apa menyediakan baby basinet atau engga, kalau dibutuhkan. kalau anaknya udah gedean, tanyakan menyediakan menu anak atau tidak, just to make sure aja.
3. ini optional, tapi aku kemarin sekalian cek ke DSA untuk screening apa anak bisa dibawa long flight, kalau ada infeksi telinga biasanya akan cukup ganggu dengan perbedaan tekanan selama di pesawat. 
4. cek peraturan pesawat, apa yang bisa dibawa di kabin, berapa jumlah maksimum bagage dll. cek juga ketentuan jika bawa stroller/ baby carrier. ini penting banget agar ga kelamaan ketahan ini itu. 
5. early check-in, pilih seat yang preferable. kalau aku, lebih suka di aisle deket kamar mandi/ seat pojok karena bisa keluar masuk dengan mudah. kemarin, anakku sempet nangis-nangis ada kali 1-2 jam tiap flight (total 25 jam perjalanan terbagi dalam 2 flight dan transit) dan kita ga bisa milih aisle, untungnya sebelah kita pengertian jadi kita bisa keluar masuk saat anakku nangis atau pup butuh ganti popok dll. 
6. must pack versiku: baby carrier, popok (bawa dgn jumlah asumsi ganti tiap 2-3 jam), plastik utk popok kotor, alas ganti popok, tissue basah, tissue kering, minyak telon, lotion, nappy cream, jaket, baju ganti pendek (1), panjang (1), selimut kecil, beberapa mainan, pacifier, alat untuk cek temperature, paracetamol. aku ngga pake earmuff. selama take off dan landing anakku selalu ASI atau pake pacifier. other than that, anakku lagi tidur, dan ngga perlu dibangunin sih..
7. Berdoa!! juga sounding ke anak kalau mau terbang, berapa lama, kemana, kenapa terbang.. 
8. tidur cukup sebelumnya! pengalamanku aku nya yang susah tidur 🙃
9. plan everything's ahead. cek jam boarding, lalu ditarik kebelakang, ortu bangun jam berapa, anak harus bangun jam berapa, pesen uber jam berapa, dll dll. spare time untuk hal unexpected, seperti anak susah bangun, anak rewel saat mandi, dll. 
10. sepengalamanku, orang tuh pengertian kalo kita bawa bayi, asal kita ya baik-baikin aja sebelah-sebelah kita sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. kemarin anakku pup saat mau landing, which means ga boleh berdiri padahal bau... huhuhu. untungnya suamiku udah ngobrol banyak sama passenger samping dan dia juga punya anak jadi cukup ngerti walaupun dia complain kalo adek bau pup huhu ya kita jg minta maaf karena ga bs lgsg ganti popok hiks.
11. ikhlas. mungkin ada yang menatap kita kok anak kita rewel, mungkin dibet bawa ini itu, capek gendong, pengen tidur tapi anak lagi main, dll dll, tapi perjalanan ini ngga selamanya kok jadi pasti bisa dilalui.
12. post flight, aku kasih anakku istirahat full seharian, bener-bener tidur tidur aja sesuka dia jam nya, kalo bangun ya diladenin, kalo tidur yaudah. cuma, kalo siang aku buka jendela lebar-lebar, buka pintu, ajak keluar, kalau malem aku redupin lampunya walaupun dia masih seger, untuk bantu dia ngerti mana pagi dan malem bisr ga kelamaan jetlag 🤣 akhirnya kelar jetlag mgkn baru setelah 3-5 harian.. 

Nah sekian tips dari aku.. kalau punya tips lain boleh share yaa! Thank you!
l

Wednesday, September 18, 2019

Ide Kado Lahiran Untuk Si Ibu

Tiap ada temen lahiran, selalu stuck bingung mau kasih kado lahiran apa. Ada sih, beberapa temen yang memudahkan dengan cara kasih pilihan hadiah yang memang dibutuhkan, tapi seringnya ngga ada request dan bingung sendiri mau ngado apa T.T Nah aku trus kepikiran, bahwa kok kado lahiran tuh seringnya berupa perintilan buat bayi, padahal proses persalinan ngga Cuma tentang bayinya aja.. Kayaknya ibu juga pantes dikasih kado lahiran deh. Ya karena bagaimana pun, ibu pasti capek banget abis bersalin, adaptasi sama bayi baru, belum lagi sibuk menerima tamu di pagi hari dan sibuk nidurin anak di malam hari, jadi wajar dong kalo ibu juga dikasih hadiah

Nah, aku pengen kasih beberapa ide kado untuk ibu yang baru aja bersalin. Semoga ada yang pas ya!

1. ASI booster 
ASI menjadi nutrisi pertama dan utama untuk bayi baru lahir, jadi pasti tiap ibu berjuang untuk memenuhinya. Daripada sibuk menanyakan apa ASI nya cukup, mari bantu ibu untuk memenuhi ASI nya, salah satunya dengan memberikan ASI booster. ASI booster tuh emang macem-macem banget, plus cocok-cocokan juga… Jadi, pilihlah yang kira-kira ibu suka dan bikin happy juga mengkonsumsinya. (psst.. makanan enak, atau apapun yang bikin happy juga bisa jadi ASI boosterloh!). ASI booster andalanku adalah.. mamabear! Haha. Entah gimana efeknya terhadap ASI, tapi at least dia bisa bikin kenyang saat aku belum sempat makan pada hari-hari pertama lahiran itu..

2. Voucher pijat atau salon
Serius deh, proses lahiran sampe adaptasi sama bayi baru tuh sangat melelahkan! Jadi wajar aja kalua ibu butuh waktu istirahat sebentar aka me time. Di beberapa tempat, ada pijat khusus untuk setelah bersalin, tapi dipesenin go-massage aja juga oke, kok! (tentunya setelah janjian waktu yang tepat ya..). Nyalon juga bias jadi salah satu alternative hiburan untuk ibu baru, setelah seharian ngerasa ‘lecek’ sibuk mengurusi bayi baru yang kadang masih membingungkan.

3. Nursing kit
Perjuangan meng-ASI-hi bisa sangat Panjang hingga dua taun atau lebih, lho. Jadi, tentu prosesnya butuh amunisi yang cukup, seperti nursing cover, bra menyusui mapun baju menyusui. Sekarang ada banyak banget pilihan, dari mulai nursing cover motif hingga polos, dengan berbagai bentuk. Begitu juga dengan baju menyusui, ada banyaaaaaaak bangeeet! Aselik! Pilih yang kira-kira nyaman dan sesuai sama style ibu, ya! My favorite brand for nursing cover adalah cottonseeds, untuk bra menyusi favoritku tuh mooimom, dan baju menyusui menurutku sama aja semua hahaha yang penting modelnya lucuk.

4. Voucher belanja
Hhahahaha. Duh, nggak bisa dipungkiri kadang cewek tuh emang suka belanja aja gitu. Entah apapun. Pokoknya belanja. Nah, bisasanya, kalua menjelang atau sehabis persalinan, si ibu lupa belanja buat diri sendiri karena sibuk dengan kebutuhan bayi. Voucher belanja di tempat belanja buibu kayaknya pas, sih. Di sisi lain, beberapa orang juga ngga nyaman memberi (atau menerima) uang cash langsung, kan. Agar ibu ingat lagi rasanya muda belia dan doyan belanja hahaha. (ya ngga semua suka belanja tapi majority lah yaa..)

5. Langganan aplikasi atau apapun hobinya
Nggak semua perempuan menikmati maternity leave. Untuk sebagian orang, jaga anak 24/7 bisa jadi pekerjaan yang melelahkan dan membosankan. Memberikan langganan aplikasi seperti spotify, Netflix, iflix dan semacamnya, atau memberikan buku bacaan atau apapun yang berkaitan dengan hobinya bisa jadi pilihan untuk mengisi waktu sambal menyusui anak atau waktu nemenin nidurin anak. Walaupun nggak umum, tapi nggak ada salahnya untuk dicoba, kan!


Nah, itu tadi adalah beberapa hadiah lahiran untuk ibu versiku. Walaupun mungkin nggak 100% cocok, percayalaha bahwa memberikan hadiah untuk ibu bakalan bikin si ibu merasa diperhatikan dan bikin dia happy yang pada akhirnya bikin anak (dan suami) ikut happy! Mungkin kecil, tapi kadang yang kecil itu malah lebih bermakna.

Friday, August 9, 2019

What People Don't Talk About Being A Stay At Home Mother

There are a lot of myth and romanticising about being a stay at home mother. The joy of being 24/7 with our kids, i-never-missed-her-milestone, i can give the stimulation that they need and everything. But actually, some of the days, being a stay at home mother requires most of our energy and our kids get whatever left of our mind, body and soul. Sometimes we felt so superior of being stay at home mother that we didn't push ourselves enough to be the best mother that we could ever be. Sometimes, we get bored and have no love left to raise our kids. there are bad days like that, but i am thankful that i can manage myself, or just even lower my expectation of tidy and clean home while raising a baby.

But one thing that i didn't know before, is that being a stay at home mother, or being a mother itself, empowers me somehow. I realized i could help a baby, little tiny baby who at first can't do anything, then do more of the things i could never imagine. She can laugh, she can sit, she can crawl, she can choose her mother (sometimes her dad too, lol), and everything. I realized that i have a power to change the world by teaching this little tiny baby to grow, to be whoever she aspire to be. That is really powerful, and i didn't know that at first.

I'm still juggling between my own goals, whether i should stay at home longer or start to work as soon as possible. But then i believe God knows the best, and i just have to do what's i have to do right now; be a homemaker and raise my baby well.

Monday, August 5, 2019

Love (didn't come) at the first sight


I had predicted it; that i wouldn't love my daughter at the first sight. That midnight i was angry forbeing in so much pain despite of learning about gentle birth. as i pushed her out, i still mad at the world, and when she's out, i was still collectingmy sanity. Then she slept on my chest, when i was putting these images into my brain and procvess what i had  done. so this is my baby. she looked like another tiny baby. 

Newborn phase felt like a year. it was sooooo looong and exhausting. I didn't feel like connectedto her. She didn't respond to me, didn't look me in the eye, love to cry despite of my best effort and everything. I didn't feel any connection. it was merely doing the job; to breastfeed her and put her into sleep.

On the third month, i started to feel something. She started to look at me in the eyes, smiling, laughing, cooing and even responding to any of my small talks. she stareted to move her body a lot, and she made a lot of facial expressions (not so much actually but really.. A LOT).


On the fourth month she started to try to grab everything. Like everything. she rolled her body a lot. she breastfed with free style. and she laughed a lot. she tried to enggage in our daily coversarion and so much easier to soothe. i love her even more. wait, did i mention love that i had never felt before?


https://drive.google.com/uc?export=view&id=1f4t7dEUrWIWcHQJ6--pm1fToG4CUZlNJ


For me, love for my daughter didn't come at the first sight. And it's okay. I don't want to lie about that fact; that not every women loves her child instantly. Some of them need time and i was one of them. It needs a lot of tears, angers, confusion, desperation, and everything in between to finally feel something about my own child. It's hard, really, to be alone and help your child grow. However I am proud of what I had accomplished during the moment that i call it the hard time: i've been breastfeeding her, she has been growing well, and i have a wonderful relationship with my husband. It's more than enough, really. I am so thankful for this. I expect a lot less than that actually. I expect to have a really bad baby blues, cracking relationship with my husband because of the new member of our family and the duties that followed, and all the bad possibilities that occupied my head for some time. But Allah didn't let that happen! So i guess i am more than enough, now. Alhamdulillah.

Tuesday, July 23, 2019

The little joy inside of us

This was one of the rough nights. Cila muntah, kami ganti sprei dan ganti baju Cila, Cila ngoceh ketawa-ketawa  dariiii jam 6 sampe jam 10 malem... sampe aku belakangi dia (karena sudah lewat jam tidur).. dan masih aja dia ketawa-ketawa sendiri.. even setelah muntah! lalu hening.. 5 menit berlalu.. aku balik badan.. she was magically just slept!! after all this time!! fyuuuuh.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1NaM5j9TvHtqUoHedwz_owCRfeXLUK2mH

Aku sering denger buibu lain bilang kalo liat anaknya tidur suka pengen bangunin, tapi aku malah suka banget liat anakku tidur. Kayak, tenang aja gitu.. happy.. seneng liat wajahnya yang sangat amat polos gemessshh. Dan biasanya, tiap liat anak tidur (dan aku belum ngantuk), jadi mikir banyak hal tentang dia, aku sebagai ibu, dan masadepan kami. Semoga apa yang mama usahakanuntuk kamu membantu kamu untuk tumbuh jadi anak yang sehat dan baik hati ya sayang.. Tuh kan mellow! :")

Monday, July 22, 2019

Another Day, Another Question

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1whssbnf-YeiKb18X2h7r7xeU-4BAMOyX

One day someone (kinda) told me to support my husband regarding his study, despite of being a new father. Well in fact, i don't think i ever supported him less than what he deserves. Most of the time i cook for him, i clean the house, wash the dishes, do the laundry meanwhile i still regularly breastfeed my baby (except for a month and half post partum i didn't do any housechores). And I leave all my life to be around him. If that is not a form of support, i don't think what it is.

Meanwhile motherhood journey is quite lonely. No one really asked me about how my husband support me for that. People may assume thay it comes naturally that women can be a mother right after the baby born, but the truth is taking care of newborn is not easy. I think every women is deserved to be supported in any way by anyone during her transition for her new role. Is she well-fed? Is she well-rested? Does she need more help? 

Life is changing after baby. It is a whole lot more challenging than ever, but it's also soooo much more rewarding. It's such a beautiful beautiful journey indeed 🌸

Wednesday, June 19, 2019

Life After Baby

Sedari dulu, aku selalu merasa bahwa punya anak itu nggak mudah. Hal itu juga yang bikin aku nggak ngoyo untuk cepet-cepet punya anak, lebih ke percaya sama timing Allah aja, mau dikasih kapan ya berarti menurut Allah itu waktu terbaik untuk semua. Walaupun kenyataannya.. setelah berpasrah.... ternyataaa... menjalani sesuai timing Allah........ tetap tidak semudah itu :))))

Aku tau hamil 2 hari setelah suami tau akan berangkat S2 ke UK. Dua minggu kemudian aku tau bahwa aku hamil+tokso, 3 minggu kemudian suami udah di UK:))))) asli roller coaster banget rasanya, kesel sedih capek... Lalu berusaha move on untuk menyelesaikan internship dan mengurus kepindahan ke UK. Aku mulai pindah ke UK Akhir Desember 2018, setelah selesai internship di bulan November. Rasa-rasanya aku nggak mengalami honeymoon period selama di Edin, karena jujyuuurr kurang cocok sama dinginnya dan beranginnya disini..  juga sulitnya beradaptasi dari pekerja jadi ibu rumah tangga full time (tapi pada akhirnya alhamdulillah menemukan escape berupa... masak dan makan!) Dan setelah sedikit banyak beradaptasi tinggal di perantauan, tau-tau 4 April 2019 aku udah jadi ibu dan harus beradaptasi... lagi!

Seminggu pertama aku masih tinggal di rumah sakit. Alhamdulillah aku lahiran normal, harusnya sih bisa langsung pulang, tapi kemudian aku ditahan... nggak boleh pulang dulu. Awalnya aku nggak tau kenapa aku ditahan, dan dimasukkan ke ruang isolasi. Bidan yang menangani aku pun nggak bisa menjelaskan dengan detail kenapa saat itu. Nangislah aku, sedih karena ngga ada persiapan menginap, nggak bawa baju-baju dan nggak siap mental juga. Udah berdoa dan berusaha banget agar lahiran normal biar ga nginep.. eh malah di rawat inap :( Baru setelah masuk ruangan, aku dijelaskan bahwa aku di isolasi untuk cek bakteri MRSA, karena aku sempet kerja di RS di Indo dimana ada risiko terpapar bakteri itu. Sayangnya, mereka pun nggak tau berapa lama aku di isolasi... hiks. Tapi ya ternyata itu kayak blessing in disguise gitu sih, soalnya ada bidan 24/7 yang bisa kutanyai dan ada makanan siap sedia tiap waktu makan. Aku pun bebas tugas beres-beres rumah juga wkwkwk. Kebetulan dapet kamar isolasi kan, jadi suami bisa ikut nginep, yey! Aku diisolasi selama 5 hari, sampe semua sample ku terkumpul dan dinyatakan bebas bakteri. Hahhaa kocak juga sih ini kalo diinget-inget, tapi aku yakin semua ada maksudnya.

Minggu kedua... adalah battle yang sesungguhnya. Seperti kesepakatan sebelumnya dengan suami, aku megang anak, dan suami megang semuaaa kerjaan rumah yang lain + belajar karena mau ujian + masih part time. Minggu kedua anakku mulai nangis kenceng dan susah ditenangkan.. suami baru tidur dini hari karena belajar, jadi aku juga jarang minta tolong suami.. apalagi dia bangun tidur udah harus nyiapin sarapan, cuci baju, beberes rumah.. rutinitas itu aku jalani hampir sebulan. akibatnya? Aku capek dan bosen banget. Tiap hari kerjaannya nyusuin, nidurin bayi, yang kadang nggak mau tidur aja gitu.. nangis terus sampe akunya ikut nangis wkwk. ada kali, seminggu sekali atau dua kali aku nangis seharian, literally dari bangun tidur sampe tidur lagi nangis, sambil masih megang anak. suami juga bingung harus gimana. Akhirnya aku minta suami berhenti part time biar lebih ada waktu untuk bantuin aku, dengan risiko harus hidup full dari stipend.... jeng jeng! hahahha.

Dilanjutkan minggu-minggu setelahnya, dimana aku makin lama makin jenuh, dan akhirnya memutuskan bahwa: aku mau megang urusan rumah lagi dan suami gentian yang nidurin bayi (most of the time). It was a big shift. Akhirnya aku masak macem-macem, makan enak lagi (no offense, hubby, but you know who's the better chef, kan:p), cuci-cuci, beberes, nyapu, dll. Hal itu cukup membantu aku biar nggak jenuh dengan rutinitas nen-nidurin-nen-nidurin erus dan akhirnya merasakan me-time yang sesungguhnya! Padahal cuma sambil nyuci piring.... hahaha.

Sejujurnya aku tau bahwa aku prone terhadap baby blues, mengingat kehamilanku yang berat, personality ku yang (agak) drama wkwkwk dan ketidakhadiran suami pada sebagian besar kehamilanku. Tinggal milih aja: lahiran di Indo baby blues karena jauh dari suami setaun, atau lahiran di UK baby blues karena jauh dari keluarga. Banyak momen dimana aku bener-bener berharap ada yang gantiin aku megang anak, ada yang gendongin, aku bisa makan enak 3 kali sehari, ada gofood, bisa ke salon, ada temen ngobrol tiap hari di rumah, ada hiburan, dan lainnya. Tapi bersyukur juga, walaupun aku bener-bener rajin nangis di satu bulan awal dan males banget makan, ASI-ku masih lancar, berat badan anakku naik terus, anakku sehat walaupun kondisi kehamilanku dulu yang dengan tokso, dan punya suami yang supportif. Ada masanya ketika aku nangis pengen pulang, butuh bantuan, suami keliatannya cuek aja gitu hahaha dan rasanya pengen packing langsung beli tiket pulang. Tapi aku pikir ya ini battle yang harus aku lewati.



Tentang baby blues.
Apa sih yang aku rasain selama baby blues itu? Macem-macem, dari nangis seharian, marah sama suami, marah sama bayi dari ngomel-ngomel sampe nggak mau megang bayi, takut tiap anakku bangun, menyalahkan keadaan, dan lainnya. Ada salah satu episode yang aku masih inget banget, dimana waktu itu bayiku bangun dari jam stengah 3 pagi sampe jam 5 pagi dalam keadaan masih nangis dan belum mau tidur walaupun udah bolak balik disusui sampe dia nolak-nolak (kalo aku ngga nonton youtube dr tiwi aku pasti kira anakku laper, ASI ku kurang dsb dsb. Tapi since anakku masih pipis dan pup, setelah aku pencet juga ASI ku masih keluar, aku jadi yakin aja ini bukan karena dia kelaperan karena ASI ku kurang). Aku berusaha menenangkan, timang-timang, bolak balik dari kamar tidur ke living room, udah gitu jalannya pelan-pelan agar suami yang barusan tidur nggak kebangun. Setelah 2 jam lebih berusaha menenangkan tapi masih belum berhasil, aku akhirnya frustasi sendiri dan mulailah nangisssssss... akhirnya aku nyerah, masuk kamar sambil banting pintu, dan taruh bayi di kasur meanwhile aku melanjutkan nangis cirambay di sampingnya. Suami pun kebangun karena suara pintu kemudian gantiin timang-timang.... Huhuhu sedih sih kalo diinget-inget lagi, kasian sama diriku sendiri lol pengen kloning diri sendiri trus peluk, pukpuk, sambil bilang: 'hang on there, i'm here.' gila emang wkwkwk. Jujur, berat. Aku sampe tanya ke temenku yang juga lahiran di luar negri, seberat itu kan?? (cari justifikasi) dan dia mengiyakan hahahhaa. Untungnya, dia bisa menghadirkan keluarganya ke LN, dan aku enggak T.T jujur, aku belum menemukan orang Indo lainnnya yang lahiran di LN tanpa kehadiran keluarganya dan tetep waras seutuhnya.

Agar terhindar dari baby blues.
Aku sempet ikut kuliah whatsapp tentang baby blues beberapa hari setelah melahirkan, sayangnya kontennya agak luas huhu jadi nggak ngena buat aku yang udah melalui proses post partum. Salah satu hal yang paling banyak ditanyakan adalah, 'gimana sih caranya agar terhindar dari baby blues?' Kalau menurutku, sebenernya luas sih, tergantung value yang dipegang masing-masing orang dan keadaan kehamilan/persalinan/pasca persalinannya, tapi ada beberapa poin penting: dekat dengan orang terkasih (suami/orang tua/lainnya tergantung prefence masing-masing), cukup tidur, cukup nutrisinya, dijauhkan dari komentar negatif (nggak disalahkan, dihakimi, dibandingkan, dll) dan diperbanyak obrolan positif (diapresiasi, didukung keputusannya, dll) , juga diberi bantuan dalam mengurus bayi (bisa dititipin gitu lho, gantian gendong dll, apalagi anakku bener-bener nggak bisa ditaruh/ditinggal... lah curhat lagi T.T). Nah, tergantung value masing-masing yang aku maksud disini adalah, kadang buat seseorang lahiran normal itu penting, jadi ketika dia gagal normal sedih, ASI eksklusif itu penting, jadi ketika harus sufor sedih, omongan orang itu penting, jadi ketika ada omongan orang yang kurang baik dia sedih. Nah, kesedihan ini bisa jadi trigger untuk terjadinya baby blues,  tapi trigger-trigger ini nggak selalu universal, nggak selalu apa yang mencetuskan baby blues di satu orang akan sama di orang lain. Contohnya nih, ada loh temenku yang dapet banyak omongan yang menyalahkan dia, tapi dia bisa menghalaunya gitu, karena dia punya kepercayaan kuat sama apa yang dia lakukan, sebodo amat orang ngomong apa. Kalau aku, karena tau hidupku kayaknya akan ribet semua hanya berdua suami, udah sangat pasrah sama apapun, nggak mau idealis (tapi ternyata aku tetep punya idealisme tertentu yang aku nggak sadari gitu, dan berakhir bikin stress wkwkwk). Even kalau harus nggak eksklusif ASI karena satu dan lain hal aku ikhlas kok yang penting aku hidup bayi hidup, cuma ya ternyata alhamdulillah Allah masih kasih rezeki aku berupa ASI sampai hampir 3 bulan ini.

Masih ada setitik rasa sebel kenapa suami membuat pilihan yang tidak menyenangkan soal bagaimana pengalaman pasca melahirkanku (antara tanpa keluarga atau tanpa partner pembuat anak lol), tapi kalo aku masih merutuki nasib, sama aja aku mempertanyakan ketentuan Allah, dong? Dosa bener T.T Jadi ya kayaknya aku harus belajar ikhlas bahwa Allah pasti memberi rezeki maupun cobaan ada maksudnya, termasuk untuk hal ini.


But please, dear bapak-bapak diluar sana, kasianilah istrinya, udah hamil berat rasanya, melahirkan sakit, pasca persalinan juga masih sakit, kasihlah suasana pasca persalinan yang menyenangkan. Jauhkan dari omongan-omongan yang kurang baik, atur waktu kedatangan tamu, berikan waktu istirahat cukup, pastikan nutrisi ibu tercukupi, bantu ia kembali percaya diri terhadap tubuh 'baru' nya, bantu rawat bayi semampunya juga. Sesungguhnya battle ibu baru itu berat dan panjang, dan aku rasa nggak ada perempuan yang pantas melewatinya sendirian.


(but if you have to get through it alone, i believe you can do it. walaupun tingkat kewarasan agak dipertanyakan ditengah jalan, tapi bisa kok dilalui, InsyaAllah.)