Aku percaya tiap orang punya prinsip dan prioritas masing-masing, kebetulan aku anaknya kalo soal hal-hal penting dalam hidup pegangannya agama. Aku nggak mau pacaran lama-lama karena itu nggak ada tuntunannya dalam agama.. Walaupun aku juga ketemu dia cuma sebulan sekali dan biasanya cuma hari sabtu dengan jam malem jam 8.30 malem, tapi ya tetep aja dalam agamaku nggak ada pacaran. Terus kenapa nggak bisa untuk nggak pacaran sama sekali? Ya sayangnya imanku belum sekuat itu. aku belum bisa percaya sama stranger untuk langsung nikahin aku. aku merasa butuh ‘kenal’ sama calon pasanganku sebelum memutuskan untuk jadi pasangan seumur hidup.
Awalnya dia merasa punya target finansial yang ingin dia capai sebelum nikah sama aku. Tapi ya karena aku udah niat nggak mau pacaran lama itu tadi, jadi aku bilang ke dia bahwa aku nggak nikah buat cari hidup enak mapan kayak princess, yang kalo emang aku cinta banget sama hal itu (aka keindahan duniawi dalam bentuk material) ya aku nggak akan mau nikah cepet start from zero. Aku Cuma pengen nikah sama dia karena aku emang nggak pengen pacaran lama dan kebetulan aku udah ngerasa bahwa pencarian aku stop di dia, aku merasa aku bisa nih grow old sama dia, terus mau ngapain lagi? Menurutku akan ada banyak hal yang jadi jauh lebih menyenangkan ketika kita berdua tumbuh bareng daripada sendiri-sendiri.
Di sisi lain aku bilang juga bahwa kalo dia memang merasa belum mampu atau belum pengen nikah ya nggak papa, tapi nggak usah pacaran sama aku lama-lama. Ya temenan aja, jadi nggak wajib ngabarin mulu, ketemu sebulan sekali, jalan bareng dll dll. Terus aku bilang sholat (malam) dulu, doa yang banyak, minta diyakinkan. Aku waktu itu udah ngerasa pasrah, sih. Walaupun terdengar aneh, tapi aku bener-bener mutlak nggak pengen pacaran lama,jadi kalo dia belum siap ya aku yang harus siap-siap ikhlasin dia. Lalu abis itu, beberapa hari kemudian dia yang malah seyakin itu dan ngajakin aku nikah taun ini.
Sekali lagi, aku pasrahin aja sama Allah. Aku berdoa yang banyak.. aku minta petunjuk. Abis aku curhat banyak sama Allah tentang hal itu, aku baca Al Quran dan baca ayat ini:
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(QS. An Nuur (24) : 32)
Wah gila, abis itu rasanya kayak dapet jawaban banget. kayak, apalagi sih, Nin yang bikin ragu? Ada laki-laki baik bertanggungjawab, insyaAllah ibadahnya baik, dateng nih mau nikahin. Ngapain sih ditolak-tolak atau ditunda-tunda Dan bismillah,abis itu aku bilang ke dia dan kita mulai rencanain semuanya, dari dia bialng ke ayahku sampai pertemuan keluarga dan planning panjang tentang goals kita di life after marriage. Apa udah yakin 100% mampu jadi istri dan calon ibu yang baik? Ya belum. Makanya aku rajin doa dan belajar tentang itu . Minta disiapkan sama Allah, terus lebih sering belajar agama, belajar untuk ibadah lebih baik lagi, karena buat aku semua yang dasarnya agama insyaAllah berkah.
Tapi mungkin kalo orang mikirnya practical ya ini sangat nggak ideal sih. Kayak di penjelasan aku ini, aku banyak ngomongin ttg faith aku, ttg belief aku, yang susah diaplikasikan sebenernya. Kayak,gimana lo yakin nikah sama orang padahal lo masih way too young? Atau masih banyak keinginan? Atau mungkin masih harus LDR? Buat apa? Kok bisa-bisanya nikah padahal belum kerja sendiri? Belum bisa biayain nikah sendiri? Dll dll. Tapi sekalilagi, emang latar belakang keinginanku banyak dipengaruhi sama kepercayaanku sih,. Aku tapi nggak mau bahas banyak ttg tuntunan agama secara lebih detail karena aku memang nggak pengen bikin post tentang ketentuan-ketentuan dalam Islam atau menggurui nyuruh semua orang nikah, karena itu adalah hal yang sangat penting dan sangat personal, jadi ya orang lain nggak bisa maksain. Aku Cuma pengen sharing aja tentang hal ini.
Terus gimana sama studi aku kedepan? Cita-cita aku? Cita-cita dia? Ya nggak gimana-gimana. Kita tetep on track buat berusaha dapetin itu semua. Aku percaya sih kalo berkeluarga insyaAllah bukan penghalang. shifting di prioritas pasti ada, tapi itu bukan tanda mutlak kita harus berhenti. Alhamdulillah, dia anaknya mau berkembang dan dukung aku buat berkembang.
Sampe sekarang aku masih belajar sih, masih berdoa juga buat kelancaran kearah sana. Dan mungkin bener kata orang, makin kita serius makin banyak cobaannya hahaha. Kalo kata sahabatku sih, “nikah itu kan ibadah, setan nggak suka liatnya terus berusaha gangguin deh.” Obatnya adalah berdoa berdoa berdoa. Minta diyakinin, minta dilancarkan, dan minta semuanya. Allah Maha Memberi,kok.
No comments:
Post a Comment