Tuesday, September 1, 2020

How Taking Care of My Mental Health Changes Me as A Mother


 

Sebelumnya, aku udah cerita tentang 'beratnya' jadi ibu pada tahun pertama kehidupan anakku. Setelah mengalami ups and downs, akhirnya sekarang-sekarang ini aku merasa jauuuuh lebih baik dan itu karena aku mengusahakan kesehatan mentalku. And for me, it's not as simple as self care.

Setelah beberapa kali konsul ke psikiater via alodokter (she's super nice btw!), dan beberapa kali juga disarankan minum obat, aku mulai stuck. Kalau solusi dari psikiater adalah terapi temu langsung yang aku belum bisa lakukan, karena belum bisa ninggal anak, dan juga obat yang aku belum mau karena masih ASI, aku merasa harus cari bantuan lain. Entah gimana Allah mempertemukan aku sama solusinya. waktu aku cerita ke temenku, eh ternyata dia juga abis konsul ke psikolog online, via telfon. wow, kok menarik. Lalu aku mulai cari tau, browsing, membandingkan harga.. Akhirnya aku mantap untuk konseling via telfon dengan psikolog dari sebuah wadah psikolog online.

Pertemuan (telfon) pertama adalah konseling umum, diidentifikasi masalahnya dan lain-lain sampai disusun rencana terapi kalau aku menghendaki.. akhirnya aku terapi beberapa minggu setelahnya. Aku ngga rutin terapi tiap minggu, tapi kalo weekend kosong biasanya aku sempetin. And it helps me a lot.

Aku jadi sadar bahwa i still carry the emotional baggage that i have since my childhood, and i throw it all to my baby. Aku jadi tau mana pikiran irasional dan rasionalku, mostly pikiran irasionalku bentuknya kayak judgement negatif ke diri sendiri, sangat amat nggak sehat. Aku jadi lebih menghargai hal-hal kecil tentang aku dan anakku, tentang hubungan kami berdua. Aku merasa harus mengusahakannya karena she's all that i have and i'm all that she has entah sampai kapan. Aku ingin dia tumbuh menjadi anak yang sehat secara fisik dan mental, and it has to start from me, her mother, her very first caregiver.

Jadi kalo masih ada yang bertanya-tanya, worth it nggak sih konsul ke psikolog? worth it banget! tapi, psikolog juga cocok-cocokan.. jadi berusahalah sampe ketemu yang cocok. Bedanya psikiater dan psikolog adalah, kalo psikiater umum, biasanya fokus ke diagnosis dan terapi obat, juga fokus sama masalah yang sekarang. aku beruntung dapet psikiater yang mau empati, mau menggali masalah, dan jadi temen bicara, karena pernah juga dapet psikiater yang cuma fokus di diagnosis dan terapi aja. Nah, kalo psikolog, dia akan cari root masalahnya dan berusaha membantu kita untuk menyelesaikan masalah dari rootnya. Sebelum akhirnya ke profesional, aku juga udah banyak googling tentang self healing, coba meditasi guided di internet dll, tapi it didn't work that much on me.

Dear mothers, i believe our family deserves the best version of ourselves, and we deserve to be happy while taking care of our family.

Wednesday, July 1, 2020

Alergi Susu Sapi pada Anak 6 Bulan (Mulai MPASI)

Alergi susu sapi biasanya terjadi pada tahun pertama kehidupan dan dilami oleh 2-3 persen dari bayi. Saking sedikitnya yang mengalami, dan beragamnya tanda dan gejala dari bayi yang mengalami alergi susu sapi (pada bahasan selanjutnya, aku singkat sebagai ASS aja ya), dokter anak pun kadang punya pendapat yang berbeda-beda tentang hal ini. Setelah ke berbagai dokter dan mengalami kesulitan dalam diagnosis juga terapinya, aku pengen sharing dari awal banget Cila punya gejala elrgi susu sapi (ASS).

Awal MPASI
Setelah belajar banyak tentang MPASI, i thought iwas ready for it. Awalnya aku berikan bubur fortifikasi 1 kali sehari + bubur rumahan 1 kali sehari, jadi total makan 2 kali sehari, sambil mengusahakan membuat jadwal yang enak karena bayi ini masih tdur siang 3-4 kali sehari. Nyatanya, anak ini hampir bisa dibilang ngga mau makan. Kadang ngga mau mangap sama sekali, kadang 3-5 suap aja. Nggak pernah ada cerita makannya abis, piring kosong dan lainnya T.T

Frekuensi dan Konsistensi Pup Berubah
Setelah memulai MPASI, pup anakku jadi berubah. Pupnya lebih sering, sesering dia makan atau bahkan jadi lebih sering (3-6 kali sehari) dan konsistensinya jadi lebih lembek. Aku pikir itu normal, karena aku tanya temen-temenku, katanya ngga papa asal nggak cair. Dan emang konsistensinya ngga cair lho, tapi bisa gitu aku kasih misoa blender kasar, di pupnya masih berbentuk misoa blender kasar. kalau aku lagi kasih cemilan sayur atau buah potong, yang di pup juga potongan kasar sayur atau buah tersebut. Huft.

Berat Badan Nggak Banyak Naik
Setelah 3 minggu MPASI, berat badan anakku malah turun 100 gram. Aku pikir itu karena dia sempet batuk pilek. Tapi setelah 5-6 minggu MPASI kok naiknya tetep kurang ya dari seharusnya. Nah, tapi emang 2 bulan pertama itu dia jarang mau buka mulut. Aku pikir karena masakanku ngga enak padahal udah kukasih rasa-rasa juga, lho. Jadi, aku makin sering kasih fortifikasi karena mungkin rasanya lebih enak. Kadang anakku mau makan, tapi lebih sering tutup mulut sama sekali.

Pup Berdarah
Kemudian anakku sakit diare dan muntah, beratnya terjun payung. Kenaikan berat badannya selama 2 bulan ini hilang sudah. Tapi, yang bikin patah hati adalah melihat darah merah dan lendir di pup anakku. sore itu juga aku booking dokter konsulen gastro di sebuah rumah sakit swasta. Dapet jadwal malem banget jam 9an, dan dibilang alergi susu sapi, hanya dengan anamnesis yang terbatas; fakta bahwa ada darah di pup dan riwayat alergi dari keluarga kami. Jujur, aku udah curiga ada yang ngga beres dengan pup anakku, jadi ketika dokter bilang ini alergi, aku malah lega. 

Perbaikan Nafsu Makan
Setelah full makan makanan rumahan tanpa bubur fortifikasi, nafsu anakku sangat membaik. Beratnya pun naik 500 gram per 2 minggu (sisa 2 minggu setelahnya nafsunya berkurang lagi, beratnya ngga naik lagi tapi juga ngga turun yey) walaupun porsinya masih kurang (40-60 ml per makan, 3-4 kali makan tergantung mood dia). Wajar, karena 2 bulan kemarin dia nggak banyak makan, jadi mungkin lambungnya belum siap menerima banyak volume makanan. Aku pun ngga memaksakan, karena liat anak mangap aja udah happy buanget!!! 

Konsul Ke Dokter Lain
Saat itu anakku mau vaksin, aku konsul tentang berat badan anakku. Salah satu permasalahan anak dengan alergi makanan tentu adalah gizinya, karena mau ngga mau makananya jadi terbatas dan penyerapannya kurang baik. Waktu aku bilang anakku alergi susu sapi, dokternya nggak percaya, tapi nggak juga melakukan investigasi atau menyarankan tes eliminasi dan kemudian diperkenalkan lagi alergennya untuk menegakkan diagnosis. Padahal, penting sekali untuk menegakkan diagnosis pada anak dengan alergi, karena treatmentnya sederhana tapi sangat penting yaitu membatasi makanan yang menyebabkan alergi. Aku jadi bingung sendiri hahaha. Kemudian aku iseng coba kasih fortifikasi lagi, hasilnya tiap makan fortifikasi atau bahkan dairy product kayak butter, dalam 1-4 jam anakku pasti pup. Ohya pernah juga beratnya langsung turun 200 gram dalam 3 hari setelah aku kasih dairy product hahaha T.T

Coba Susu Soya (momen-momen ini di umur 10-13 bulan)
Karena anakku saat itu sering sakit, berat badannya juga nggak begitu bagus. Aku coba kasih susu formula alergi (yang salah juga, harusnya extensively hyrolized tapi aku saat itu kasih partially hydrolized yang juga pait!), tapi anakku nggak suka karena pait. Jadi lah aku kasih susu soya.. pun dia nggak begitu mau. Dia minum 1-2 kali sehari 50-100 ml sesuka dia. Saat dia mulai sakit yang ketiga, nafsu makan sangat turun, aku beri susu soya merk lain dan dia suka, kemudian dosisnya aku naikkan jadi 3x100-150 ml. awalnya dia baik-baik aja. memasuki minggu kedua minum susu soya, dia rutin muntah 1 kali sehari. Muntahnya tuh muntah susu + makanan yang dimakan. Aku udah coba kurangi susunya, tapi masih muntah. Selain itu perutnya kembung buanget, sampe secara kasat mata perutnya besar padahal baru bangun tidur siang. kalo ku pijat ILU dan gerakin kakinya, dia kentut-kentut terus dan sering sendawa.

Cek Feses Lengkap
Karena merasa ada yang ngga beres, sedangkan aku konsul dokter di alodokter malah dibilang aku kebanyakan kasih susu jadi muntah gitu (padahal anak usia 1 tahun minum susu tuh boleh 480-720 ml sehari!), dan menghindari kontroversi lagi, jadi aku inisiatif untuk cek feses lengkap (Cek pup). Caranya, aku bawa pup anakku ke lab saat itu juga, lalu di tes deh. Cek feses yang lengkap ya, bukan yang rutin. Hasilnya ada lemak, karbohidrat dan darah samar. Adanya lemak dan karbohidrat menandakan penyerapan makanan yang kurang maksimal, sedangkan ada darah menandakan adanya luka di dinding pencernaan anakku. Hal ini sangat mungkin terjadi jika ada alergi pada makanan. Memang dasarnya, kalau alergi susu sapi, bisa aja alergi makanan lain termasuk protein pada susu soya. Jadi, pilihan susu terbaik pada anak alergi susu sapi memang ASI dimana ibu menghindari dairy product juga, atau susu extensively hydrolized protein. 


Gejala Alergi Susu Sapi
Kalau bisa disimpulkan, gejala ASS pada anakku itu: pup sering, nafsu makan menurun, kenaikan berat badan kurang baik, pup berdarah dan sering muntah. Sebenarnya, gejala ASS itu bisa dibagi dua, yang satu umum seperti alergi lainnya, seperti kulit merah, gatal hingga reaksi anafilaksis. Ia diperantarai IgE, jadi bisa dicek darah juga. Nah yang kedua, yang non-IgE mediated, dimana diagnosisnya jauh lebih sulit dan kompleks gejalanya :)) ini aku ambil dari website NHS ya..




Ini alur diagnosisnya..





Sampai sekarang memberi makan anakku masih jadi perkara yang cukup menantang. Porsinya pun belum sebanyak itu, tapi asal nggak ada muntah atau pup yang aneh-aneh, beratnya pun naik, grafik pertumbuhannya juga membaik setelah dia nggak sakit-sakit lagi. Walaupun berat, tapi akhirnya ikhlas bahwa anakku belum bisa minum susu sapi, maupun makan makanan yang mengandung keju, butter dan lain-lain. Bonusnya, aku makin sadar bahwa tiap anak berbeda dan jadi lebih menghargai perbedaannya. Nggak melulu berlarut-larut dalam kesedihan kenapa anakku berbeda, tapi bisa fokus kasih makanan yang enak-enak lainnya, seperti berbagai jajanan pasar yang ibunya juga suka.

Semoga tulisan panjang ini bisa sedikit membantu ibu-ibu lainnya yang juga butuh info, ya!



Thursday, June 4, 2020

Setahun Menjadi Ibu

Sudah 14 bulan tepatnya, aku jadi Ibu. Peran yang aku kira, aku sudah sangat amat hati-hati dalam setiap langkahnya. Dulu waktu masih praktek, tugasku 'cuma' perlu lihat guideline untuk menangani pasien, tapi enggak gitu ceritanya saat jadi Ibu. Setelah setahun jadi Ibu, aku baru sadar, bahwa jadi ibu hanya butuh lihat anak kita sendiri, baru dicocokkan dengan guideline. Aku tuh telat banget, lho, sadarnya. Akibatnya, aku dulu sering tantrum karena anak nggak sesuai teori hahahaha.

ASI
Dulu aku take it for granted banget soal ASI. Tau-tau cukup aja gitu, nggak ada drama yang berarti. Nggak pernah seret banget, nggak pernah mastitis, BB naik sesuai grafik (tapi kayaknya di Indo bayi-bay ini naiknya harus sedikit lebih dari kebutuhan grafik nggak sih? target kenaikan BB oleh beberapa DSA yang kutau pada wow aja gitu). Akunya aja yang bikin drama sendiri karena anakku emang tipe yang tiap 1-2 jam banget nen nya, disaat yang lain tiap 3-4 jam, plus di UK kan ngga ada tempat menyusui sebanyak itu yah... Kemudian drama terjadi ketika aku cobain anakku sufor soya baru-baru ini dan ternyata dia nggak cocok, muntah-muntah. Tiap hari kucoba, ku adjust volume dan cara pemberian, tiap hari juga muntah selama hampir 3 minggu. huft. Aku cek feses, ternyata ada darah samar, yaaaaa berarti nggak bisa kuksaih soya ini. Anakku emang ada alergi susu sapi, dengan gejala pencernaan. Pada anak dengan alergi susu sapi, ada sebagian yang juga alergi protein soya, jadi yaaa.... Harus balik ASI. Saat mau balik ASI, ASI ku tinggal tetes tetes... nggak lebay hahhaa. Seharian cuma bisa ngasih 10-20 ml aja tuh awal-awal :') agar kenyang, tiap jam snack kukasih snack yang buanyaakk.. baru nen lanjut aku pompa. Aku pun kemudian merasakan power pumping 2 kali sehari, dan pumping 4-6 kali diluar itu... fast forward 1 bulan kemudian, atas izin Allah ASI ku cukup untuk sehari, masih power pumping dan pompa :')

MPASI
Sungguh aku menyesal nggak memaksimalkan momen pemberian ASI yang masih memenuhi 50-90 persen kebutuhan kalori bayi 6-12 bulan. Dulu, aku fokussss banget sama MPASI-nya, eh yang dibilang fortifikasi bagus malah bikin anakku susah naik BB nya sesuai KBM karena turned out dia ada alergi susu sapi. Itu pun aku taunya setelah 2 bulan kasih MPASI (menurutku fortifikasi ngga sempurna juga walaupun udah terstandar gizinya :D). Nyesel juga karena aku nggak responsive feeding. Aku fokus sama aturan dan jadwal sesuai teori, tanpa aku liat lagi kesiapan anakku. Banyak sih yang aku sesali tentang MPASI ini, tapi aku rasa ini juga jadi momen bonding aku sama anakku buangeeet.. Everything happens for reasons:D

Mulai Sakit
Setelah balik ke Indo, kukira hidupku akan bahagia. Period. Ternyata.... anakku mulai sakit-sakit dan cukup bikin aku kurang bahagia sih... Alergi susu sapi yang bikin pupnya aneh-aneh, suka muntah, plus ada GER, dilanjutkan dengan diare, ISK dan pneumoni... udah kayak ujian jaman koas :( ternyata, anak sakit bertubi-tubi tuh bikin capek mental banget, ya.... udah gitu pasti BB ikut bermasalah. Growth chart anakku yang nggak sesuai dengan ideal bikin beberapa dokter anaknya panik, ada yang sampe bikin aku ikut panik dan nggak nyaman... Pelajaran banget, bahwa ternyata cari dokter anak tuh bukan cuma yang pinter tapi yang bisa membuat orang tua nyaman, apapun itu kriterianya, karena tiap orang tua kan standarnya beda-beda ya.. Dan percayalah, semua orang tua tuh sudah berusaha yang terbaik within their capacities, tapi kalo Allah kasih cobaan atau rezeki, semua yang atas kuasa Allah, nggak cuma tentang usaha orang tuanya :D

Motherhood
More than anything, i feel so blessed and grateful for the past year. cobaan yang Allah beri ternyata bikin aku makin percaya diri menjadi ibu dari anakku, membantuku lebih empati terhadap ibu-ibu lainnya, mendekatkanku dengan Allah juga membuat komunikasi aku dan suami jadi lebih baik. Aku bilang sama Harfin kemarin, "punya anak tuh capek banget ya... tapi seneng banget juga!" Sekarang udah bisa fokus create moment sama anakku, instead of thinking only about her growth and development while i seek for approval that i'm good enough. Sekarang lebih berusaha mendengarkan dia, menjaga emosiku, dan menyayangi dia sepenuh hati, karena kayaknya itu salah satu indikator yang bisa kuukur dalam usahaku jadi ibu yang baik.

Depression
On my lowest point, to the moment that Harfin cant even understand, i seek help from professionals via online. After few sessions, she made it clear that it was depression. At first she didn't think i need medications, but then few consults later, she advised me to take some. That is the moment when i cried it out with Harfin about everything, because i need him to be with me through it. Every medication has side effects, and i need him to be ready with that if i ever take it. After long discussion i decided to not take it, because i dont think we're ready with the side effects (even it's just tiny probability, but if it happens, i dont think we're ready yet). He helped me so much and i still have online sessions with my psychiatrist just to make sure i got it undercontrol. Ohya, di aku, gejalanya aku suka menyalahkan diri sendiri dan nangis, simple nya gitu :D


Through its ups and downs, it's truly been such a beautiful journey with you, my dear daughter <3


Monday, January 6, 2020

Tilik Emosi

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1iQD0F8hWrEw42XQRa3zbYhk5i3bUuYxr

Sejak taun lalu, aku lagi belajar untuk menamai emosi dengan lebih baik. Harapannya, kalau tau emosi yang benar-benar dirasakan, kemudian bisa mencari solusi yang terbaik. Dulu tiap ada perasaan negatif diantara aku dan pasangan (or siapapun sih), aku akan tanya: kamu marah ya sama aku? sekarang agak ada kemajuan, aku cari tau kira-kira emosi apa ya yang dia lagi rasain, lalu dikonfirmasi ulang ke orangnya 🤣 it has a lot of things to do with being empathetic too. kadang mungkin kecewa, kadang marah, kadang simply ngga nyaman atau ngga setuju. kalo ditodong 'kamu marah engga', seringnya dia jawab engga, karena mungkin emang bukan marah but we both didnt care enough what it was wkwk. kalau agak lebih mendekati emosi dia sesungguhnya, seringnya dia mau lebih terbuka untuk diskusi saat itu juga 🤣

Saturday, January 4, 2020

2019 Recap



Tahun 2019 menjadi tahun paling roller coaster yang pernah kurasakan deh, kayaknya. Memulai tahun dengan pindah ke UK, hamil dan melahirkan di luar negri, menjadi ibu dengan minim support, kembali ke Indonesia dan adaptasi lagi, belajar ikhlas dan sabar ketika menjadi stay at home mother.


Lucunya, aku nggak tau bahwa hal-hal tersebut sebegitu berat buat aku, sampai kemarin aku ketemu dengan salah satu sahabatku. Dari dia, aku sadar bahwa kayaknya aku udah terlalu banyak mengeluh, atau bahwa dulunya walaupun suka mengeluh dalam hati, tapi aku tetap bisa menjaga vibe-ku tetep happy dan positive. Tapi kali ini, motherhood bener-bener menyita perasaan dan pikiranku, sampe aku lupa belajar mengatur diri sendiri. Merasa tidak punya pilihan sejak aku internship di luar pulau Jawa, hamil dengan suami yang berjauhan, dan harus pindah ke luar negri, bikin aku merasa 'hidup nggak adil'. Seringkali aku menyerah sama keadaan, dengan cara yaudah jalanin aja. Padahal, aku bisa make the most out of it, tapi karena mindset-ku dari awal, dan memang keadaannya nggak mudah dilalui, aku jadi lelah duluan dan fokus untuk survive rather than thrive.





Menjadi stay at home mother juga merupakan tantangan tersendiri, sih. Dari dulu aku memang udah punya rencana, kalau punya anak pengen fokus ngurusin bayi sampe minimal 1 tahun, karena berbagai alesan pribadi. Alhamdulillah, Allah kasih jalan. Nah tapi, kehilangan identitas profesional tuh ternyata nggak mudah buatku. Apalagi dulu aku lumayan terarah hidupnya, belajar bener, ngisi waktu dengan bener juga, jarang banget aku aimlessly menjalani hidup tanpa arah dan tujuan. Sedangkan ketika jadi ibu, aku merasa menjadikan anak sebagai tujuan pribadi bukan jadi passion-ku hahaha. Aku tentu punya keinginan membesarkan anakku dengan standar tertentu, tapi, i don't feel like owning the output aja gitu. Jadi rasanya tiap hari aku berusaha jadi ibu yang baik sesuai dengan value-ku, tapi nggak ada hasilnya, karena hasilnya adalah milik anakku, dari rezeki Allah. It feels like everyday is a battlefield hahaha. Tapi ya, sekarang aku belajar untuk enjoy the moment aja. Aku tuh nggak selamanya bisa disamping anakku, jadi ya aku pengen happy aja terus dideket dia, mau sesulit apapun keadaannya buatku, seperti saat anakku opname di RS. Duh, aku aja nggak pernah opname kecuali pas lahiran, ini liat anak sendiri dirawat di RS huhuhuhu patah hati banget kemarin.






Sejak aku hidup berdua bener-bener sama suami, setelah sebelumnya LDR dan LDM, kayaknya komunikasi kita membaik berkali-kali lipat. Kemajuan paling pesat yang aku rasakan adalah bahwa suamiku bisa mendengarkan jauh  lebih baik dan berdiskusi dengan lebih setara dengan aku, dan aku juga bisa mengatur emosi lebih baik agar diskusi bisa jalan. Hal ini dulu tuh negelcted banget, karena ya kami bisa jalan sendiri-sendiri, kalau ada masalah cuekin aja toh juga kalo dipendem sendiri nggak akan ketauan. Tapi, kalo udah tinggal bareng tuh kayak nggak bisa gitu menyimpan amarah dan kekecewaan, pasti keliatan, jadi mau nggak mau tiap ada masalah ya diselesaikan. Sejujurnya ini nggak mudah, tapi untung Allah masih kasih rezeki kita berupa kasih sayang satu dan lainnya jadi bisa survive dengan baik ahhaha.

Di tahun 2020 ini, aku berharap bisa lebih banyak bersyukur dan menikmati momen, more than anything. Tahun 2019 aku tuh kebanyakan skip, jadi bahkan aku ngga bisa diajak ngobrol tentang tujuan hidup selama membesarkan anak, karena i was busy surviving; anything but we both live. Sekarang, aku mau lebih 'ambisius' lagi sebagai istri, ibu dan pribadi. Ingin lebih mindful dan menikmati waktu bersama anak, bisa lebih banyak nogbrol dan diskusi bareng suami, dan lebih berusaha mendengarkan pikiran dan perasaan diri sendiri, setelah lama aku nggak hiraukan. On the top of that, pengen bisa reconnect with Allah even better, dengan cara memperbaiki ibadah-ku. Semoga Allah selalu meridhoi usahaku, aamiin.