Tuesday, January 18, 2022

Dear 24 years old me


Hey, I see you. I see you struggled a lot. I see you tried your best.


Kamu datang menemani suami sekolah, tapir rasanya, kamu mengerjakan riset sebanyak yang ia lakukan sepanjang tahun. Kamu cari tau tentnag proses persalinan, membuat birth plan, macam-macam metode anti-nyeri saat persalinan yang harus kamu pilih sendiri, perawatan pasca persalinan, per-ASI-an, stimulasi bayi, vaksin, dan lain sebagainya. Rasanya sepi sekali menjalani hari-hari sebagai ibu baru; sendirian mengganti popok tengah malam, sendirian menggendong bayi dini hari, sendirian menyusui menjelang subuh, sendirian menangis karena kelelahan. Rasanya, kamu mengalaminya sendiri. Bahkan rasanya, keluhan-keluhanmu tidak nyata, karena kamu jarang mendengarnya.

Suami pulang dengan gelar baru, ijazah baru, pengakuan baru. Sedangkan kamu, tetaplah kamu. Padahal peran kamu bertambah, pekerjaan kamu melimpah. Ketika menjadi ibu baru, seringkali orang lupa namamu. Yang dilihat hanya bayi di pangkuanmu dan siapa suamimu. Kamu merasa ingin mengingatkan satu-satu tentang siapa namamu dan menegaskan bahwa kamu lebih dari itu.

Tapi siapa yang mau tau tentang kamu? Yang orang tau, kamu membersihkan rumah, memasak, menyusui, santai-santai main sama anak, menikmati enaknya tinggal di luar negeri dengan bantuan suami. Semua yang kamu lakukan sehari-hari rasanya tidak berarti. Padahal, seringkali lapar dan lelah menghampiri, tapi tidak kamu hiraukan lagi saat mendengar tangisan bayi. Akhirnya, menangis menjadi satu-satunya pilihan yang kamu punya, setelah lelah mengeluh hingga tidak tersisa lagi kata-kata.

'Bersyukur!' kata mereka. Tanpa mereka ketahui, saat itu kamu kesulitan melihat warna dunia. Saat itu, kamu melihat dari kacamata yang berbeda. Kepalamu penuh dengan perasaan tidak menyenangkan dan kelelahan, sehingga kamu lupa, apa itu bahagia. Mensyukuri segala berkah yang ada terasa jauh sekali. Sehari bisa tenang adalah hal yang paling kamu ingini.

Aku yakin, tidak mudah untukmu. Dalam semalam, kamu harus membagi pikiranmu untuk orang lain lagi. Kamu harus mengurus seorang bayi yang kehidupannya bergantung pada usahamu. Saat itu, anakmu mungkin terlihat asing, dengan segala tangisannya yang kerap kali membuatmu khawatir sekaligus frustasi. Kamu sibuk beradaptasi hingga lupa mengurus diri sendiri.

Dear you, 

i see you,

 i feel you.

 And i want you to know that you're doing such a wonderful job. Aku melihat kamu sangat rapuh saat itu, tapi kamu selalu berusaha menyambungkan satu per-satu harapanmu, hingga kamu bisa berdiri tegak kembali. Aku melihat bahwa kamu mengesampingkan kepentinganmu, demi kebahagiaan anak dan suami. Jangan khawatir, dibalik keluh kesahmu, aku merasakan seluruh ketulusanmu dalam jalan yang kamu tapaki.

Sudah berjalan hampir 3 tahun, tapi kamu seringkali masih terisak dalam ketakutan ketika mengingat masa itu. It's okay. Kamu boleh memproses pengalaman itu pelan-pelan. Yang aku pahami, bahwa tiap kamu memprosesnya, kamu bisa melihat dari berbagai sudut pandang yang baru. yang aku lihat, sudut pandang baru itu memperluas pola pikirmu terhadap sesuatu. Aku harap, ini menjadi hal baik bagimu.



No comments: