Saturday, January 4, 2020

2019 Recap



Tahun 2019 menjadi tahun paling roller coaster yang pernah kurasakan deh, kayaknya. Memulai tahun dengan pindah ke UK, hamil dan melahirkan di luar negri, menjadi ibu dengan minim support, kembali ke Indonesia dan adaptasi lagi, belajar ikhlas dan sabar ketika menjadi stay at home mother.


Lucunya, aku nggak tau bahwa hal-hal tersebut sebegitu berat buat aku, sampai kemarin aku ketemu dengan salah satu sahabatku. Dari dia, aku sadar bahwa kayaknya aku udah terlalu banyak mengeluh, atau bahwa dulunya walaupun suka mengeluh dalam hati, tapi aku tetap bisa menjaga vibe-ku tetep happy dan positive. Tapi kali ini, motherhood bener-bener menyita perasaan dan pikiranku, sampe aku lupa belajar mengatur diri sendiri. Merasa tidak punya pilihan sejak aku internship di luar pulau Jawa, hamil dengan suami yang berjauhan, dan harus pindah ke luar negri, bikin aku merasa 'hidup nggak adil'. Seringkali aku menyerah sama keadaan, dengan cara yaudah jalanin aja. Padahal, aku bisa make the most out of it, tapi karena mindset-ku dari awal, dan memang keadaannya nggak mudah dilalui, aku jadi lelah duluan dan fokus untuk survive rather than thrive.





Menjadi stay at home mother juga merupakan tantangan tersendiri, sih. Dari dulu aku memang udah punya rencana, kalau punya anak pengen fokus ngurusin bayi sampe minimal 1 tahun, karena berbagai alesan pribadi. Alhamdulillah, Allah kasih jalan. Nah tapi, kehilangan identitas profesional tuh ternyata nggak mudah buatku. Apalagi dulu aku lumayan terarah hidupnya, belajar bener, ngisi waktu dengan bener juga, jarang banget aku aimlessly menjalani hidup tanpa arah dan tujuan. Sedangkan ketika jadi ibu, aku merasa menjadikan anak sebagai tujuan pribadi bukan jadi passion-ku hahaha. Aku tentu punya keinginan membesarkan anakku dengan standar tertentu, tapi, i don't feel like owning the output aja gitu. Jadi rasanya tiap hari aku berusaha jadi ibu yang baik sesuai dengan value-ku, tapi nggak ada hasilnya, karena hasilnya adalah milik anakku, dari rezeki Allah. It feels like everyday is a battlefield hahaha. Tapi ya, sekarang aku belajar untuk enjoy the moment aja. Aku tuh nggak selamanya bisa disamping anakku, jadi ya aku pengen happy aja terus dideket dia, mau sesulit apapun keadaannya buatku, seperti saat anakku opname di RS. Duh, aku aja nggak pernah opname kecuali pas lahiran, ini liat anak sendiri dirawat di RS huhuhuhu patah hati banget kemarin.






Sejak aku hidup berdua bener-bener sama suami, setelah sebelumnya LDR dan LDM, kayaknya komunikasi kita membaik berkali-kali lipat. Kemajuan paling pesat yang aku rasakan adalah bahwa suamiku bisa mendengarkan jauh  lebih baik dan berdiskusi dengan lebih setara dengan aku, dan aku juga bisa mengatur emosi lebih baik agar diskusi bisa jalan. Hal ini dulu tuh negelcted banget, karena ya kami bisa jalan sendiri-sendiri, kalau ada masalah cuekin aja toh juga kalo dipendem sendiri nggak akan ketauan. Tapi, kalo udah tinggal bareng tuh kayak nggak bisa gitu menyimpan amarah dan kekecewaan, pasti keliatan, jadi mau nggak mau tiap ada masalah ya diselesaikan. Sejujurnya ini nggak mudah, tapi untung Allah masih kasih rezeki kita berupa kasih sayang satu dan lainnya jadi bisa survive dengan baik ahhaha.

Di tahun 2020 ini, aku berharap bisa lebih banyak bersyukur dan menikmati momen, more than anything. Tahun 2019 aku tuh kebanyakan skip, jadi bahkan aku ngga bisa diajak ngobrol tentang tujuan hidup selama membesarkan anak, karena i was busy surviving; anything but we both live. Sekarang, aku mau lebih 'ambisius' lagi sebagai istri, ibu dan pribadi. Ingin lebih mindful dan menikmati waktu bersama anak, bisa lebih banyak nogbrol dan diskusi bareng suami, dan lebih berusaha mendengarkan pikiran dan perasaan diri sendiri, setelah lama aku nggak hiraukan. On the top of that, pengen bisa reconnect with Allah even better, dengan cara memperbaiki ibadah-ku. Semoga Allah selalu meridhoi usahaku, aamiin.




No comments: