Showing posts with label Alergi susu sapi. Show all posts
Showing posts with label Alergi susu sapi. Show all posts

Wednesday, July 1, 2020

Alergi Susu Sapi pada Anak 6 Bulan (Mulai MPASI)

Alergi susu sapi biasanya terjadi pada tahun pertama kehidupan dan dilami oleh 2-3 persen dari bayi. Saking sedikitnya yang mengalami, dan beragamnya tanda dan gejala dari bayi yang mengalami alergi susu sapi (pada bahasan selanjutnya, aku singkat sebagai ASS aja ya), dokter anak pun kadang punya pendapat yang berbeda-beda tentang hal ini. Setelah ke berbagai dokter dan mengalami kesulitan dalam diagnosis juga terapinya, aku pengen sharing dari awal banget Cila punya gejala elrgi susu sapi (ASS).

Awal MPASI
Setelah belajar banyak tentang MPASI, i thought iwas ready for it. Awalnya aku berikan bubur fortifikasi 1 kali sehari + bubur rumahan 1 kali sehari, jadi total makan 2 kali sehari, sambil mengusahakan membuat jadwal yang enak karena bayi ini masih tdur siang 3-4 kali sehari. Nyatanya, anak ini hampir bisa dibilang ngga mau makan. Kadang ngga mau mangap sama sekali, kadang 3-5 suap aja. Nggak pernah ada cerita makannya abis, piring kosong dan lainnya T.T

Frekuensi dan Konsistensi Pup Berubah
Setelah memulai MPASI, pup anakku jadi berubah. Pupnya lebih sering, sesering dia makan atau bahkan jadi lebih sering (3-6 kali sehari) dan konsistensinya jadi lebih lembek. Aku pikir itu normal, karena aku tanya temen-temenku, katanya ngga papa asal nggak cair. Dan emang konsistensinya ngga cair lho, tapi bisa gitu aku kasih misoa blender kasar, di pupnya masih berbentuk misoa blender kasar. kalau aku lagi kasih cemilan sayur atau buah potong, yang di pup juga potongan kasar sayur atau buah tersebut. Huft.

Berat Badan Nggak Banyak Naik
Setelah 3 minggu MPASI, berat badan anakku malah turun 100 gram. Aku pikir itu karena dia sempet batuk pilek. Tapi setelah 5-6 minggu MPASI kok naiknya tetep kurang ya dari seharusnya. Nah, tapi emang 2 bulan pertama itu dia jarang mau buka mulut. Aku pikir karena masakanku ngga enak padahal udah kukasih rasa-rasa juga, lho. Jadi, aku makin sering kasih fortifikasi karena mungkin rasanya lebih enak. Kadang anakku mau makan, tapi lebih sering tutup mulut sama sekali.

Pup Berdarah
Kemudian anakku sakit diare dan muntah, beratnya terjun payung. Kenaikan berat badannya selama 2 bulan ini hilang sudah. Tapi, yang bikin patah hati adalah melihat darah merah dan lendir di pup anakku. sore itu juga aku booking dokter konsulen gastro di sebuah rumah sakit swasta. Dapet jadwal malem banget jam 9an, dan dibilang alergi susu sapi, hanya dengan anamnesis yang terbatas; fakta bahwa ada darah di pup dan riwayat alergi dari keluarga kami. Jujur, aku udah curiga ada yang ngga beres dengan pup anakku, jadi ketika dokter bilang ini alergi, aku malah lega. 

Perbaikan Nafsu Makan
Setelah full makan makanan rumahan tanpa bubur fortifikasi, nafsu anakku sangat membaik. Beratnya pun naik 500 gram per 2 minggu (sisa 2 minggu setelahnya nafsunya berkurang lagi, beratnya ngga naik lagi tapi juga ngga turun yey) walaupun porsinya masih kurang (40-60 ml per makan, 3-4 kali makan tergantung mood dia). Wajar, karena 2 bulan kemarin dia nggak banyak makan, jadi mungkin lambungnya belum siap menerima banyak volume makanan. Aku pun ngga memaksakan, karena liat anak mangap aja udah happy buanget!!! 

Konsul Ke Dokter Lain
Saat itu anakku mau vaksin, aku konsul tentang berat badan anakku. Salah satu permasalahan anak dengan alergi makanan tentu adalah gizinya, karena mau ngga mau makananya jadi terbatas dan penyerapannya kurang baik. Waktu aku bilang anakku alergi susu sapi, dokternya nggak percaya, tapi nggak juga melakukan investigasi atau menyarankan tes eliminasi dan kemudian diperkenalkan lagi alergennya untuk menegakkan diagnosis. Padahal, penting sekali untuk menegakkan diagnosis pada anak dengan alergi, karena treatmentnya sederhana tapi sangat penting yaitu membatasi makanan yang menyebabkan alergi. Aku jadi bingung sendiri hahaha. Kemudian aku iseng coba kasih fortifikasi lagi, hasilnya tiap makan fortifikasi atau bahkan dairy product kayak butter, dalam 1-4 jam anakku pasti pup. Ohya pernah juga beratnya langsung turun 200 gram dalam 3 hari setelah aku kasih dairy product hahaha T.T

Coba Susu Soya (momen-momen ini di umur 10-13 bulan)
Karena anakku saat itu sering sakit, berat badannya juga nggak begitu bagus. Aku coba kasih susu formula alergi (yang salah juga, harusnya extensively hyrolized tapi aku saat itu kasih partially hydrolized yang juga pait!), tapi anakku nggak suka karena pait. Jadi lah aku kasih susu soya.. pun dia nggak begitu mau. Dia minum 1-2 kali sehari 50-100 ml sesuka dia. Saat dia mulai sakit yang ketiga, nafsu makan sangat turun, aku beri susu soya merk lain dan dia suka, kemudian dosisnya aku naikkan jadi 3x100-150 ml. awalnya dia baik-baik aja. memasuki minggu kedua minum susu soya, dia rutin muntah 1 kali sehari. Muntahnya tuh muntah susu + makanan yang dimakan. Aku udah coba kurangi susunya, tapi masih muntah. Selain itu perutnya kembung buanget, sampe secara kasat mata perutnya besar padahal baru bangun tidur siang. kalo ku pijat ILU dan gerakin kakinya, dia kentut-kentut terus dan sering sendawa.

Cek Feses Lengkap
Karena merasa ada yang ngga beres, sedangkan aku konsul dokter di alodokter malah dibilang aku kebanyakan kasih susu jadi muntah gitu (padahal anak usia 1 tahun minum susu tuh boleh 480-720 ml sehari!), dan menghindari kontroversi lagi, jadi aku inisiatif untuk cek feses lengkap (Cek pup). Caranya, aku bawa pup anakku ke lab saat itu juga, lalu di tes deh. Cek feses yang lengkap ya, bukan yang rutin. Hasilnya ada lemak, karbohidrat dan darah samar. Adanya lemak dan karbohidrat menandakan penyerapan makanan yang kurang maksimal, sedangkan ada darah menandakan adanya luka di dinding pencernaan anakku. Hal ini sangat mungkin terjadi jika ada alergi pada makanan. Memang dasarnya, kalau alergi susu sapi, bisa aja alergi makanan lain termasuk protein pada susu soya. Jadi, pilihan susu terbaik pada anak alergi susu sapi memang ASI dimana ibu menghindari dairy product juga, atau susu extensively hydrolized protein. 


Gejala Alergi Susu Sapi
Kalau bisa disimpulkan, gejala ASS pada anakku itu: pup sering, nafsu makan menurun, kenaikan berat badan kurang baik, pup berdarah dan sering muntah. Sebenarnya, gejala ASS itu bisa dibagi dua, yang satu umum seperti alergi lainnya, seperti kulit merah, gatal hingga reaksi anafilaksis. Ia diperantarai IgE, jadi bisa dicek darah juga. Nah yang kedua, yang non-IgE mediated, dimana diagnosisnya jauh lebih sulit dan kompleks gejalanya :)) ini aku ambil dari website NHS ya..




Ini alur diagnosisnya..





Sampai sekarang memberi makan anakku masih jadi perkara yang cukup menantang. Porsinya pun belum sebanyak itu, tapi asal nggak ada muntah atau pup yang aneh-aneh, beratnya pun naik, grafik pertumbuhannya juga membaik setelah dia nggak sakit-sakit lagi. Walaupun berat, tapi akhirnya ikhlas bahwa anakku belum bisa minum susu sapi, maupun makan makanan yang mengandung keju, butter dan lain-lain. Bonusnya, aku makin sadar bahwa tiap anak berbeda dan jadi lebih menghargai perbedaannya. Nggak melulu berlarut-larut dalam kesedihan kenapa anakku berbeda, tapi bisa fokus kasih makanan yang enak-enak lainnya, seperti berbagai jajanan pasar yang ibunya juga suka.

Semoga tulisan panjang ini bisa sedikit membantu ibu-ibu lainnya yang juga butuh info, ya!