Sunday, October 1, 2017

Tentang Nina Harfin #5

Two weeks later, I started to get tired of the routine. I woke up at 3 am as he called me to wake me up to do prayer, and we had phone call until the next prayer and he went sleep. I needed to sleep at 9 pm to be able to do that, and i needed to have a nap at 1 pm just to make sure my brain worked well. When he went to the office (Germany time), I couldn’t reach him. I couldn’t tell him about the things I had been went through in a day. I was tired to just get a text after 5 hours or so. At that time, I just recovered from a heartbreak and I didn’t think this worth a fight to. And I told him,

“Eh gimana kalo kita kontakannya pas sama-sama sempat aja? Kayak, pas kamu pulang dan aku masih bangun, atau pas weekend, atau pas kamu pulang ke indo?”

I was ready to let this go. I couldn’t bear this uncertain feelings.

“Kamu pengertian dong Nin. Disini kan aku kerja. Kamu sekarang pas lagi selo, tapi coba besok pas kamu balik ke rumah sakit, mungkin kamu yang lebih sibuk. Kenapa nggak kita belajar aja untuk saling sempetin? Toh aku tetep bales, kan. Cuma lama….”

(lah malah dimarahin…..???)

And I couldn’t read the rest of the message. I cried. Why couldn’t I just escape? I wasn’t a fond of a long distance relationship, I didn’t see a future in us.

“Oh…ok then. Met kerja ya..:)” I told him as if nothing happened.

But then, I just slept with tears on my cheek. I didn’t wanna think about anything.

Saturday, September 30, 2017

Tentang Nina Harfin #4



Few days later, we started to skype. He was nicer that he seemed. Surprisingly, we had a nice convo though chat apps. We share the same value so it wasn’t hard to have a real discussion with him, like school, work-life balance, living abroad, and everything else.
For me, it was casual and we didn’t talk anything personal at all. It was less ‘lagi apa’ thingies, and more talking about an issue.
B-o-r-i-n-g.
But honestly, at that time I found it verrry interesting. So I thought that was how people start in love, wasn’t it?

I knew I started to like him, but I also knew that

Not everything that I liked was supposed to be mine.

 I was so far away from the thought of dating him.

Tentang Nina Harfin #3

Nothing’s changed. He didn’t try to reach me or anything. And I got bored of wondering about this guy. So I decided to find the answer by myself, I decided to text him with a Hi.

Before that I argued with myself: what would you say? What if he didn’t respond? What if he thought you’re weird for chat a random guy? And other what if until I couldn’t stand it and just texted him just to find out.

Hours later, he answered.

And I drew the biggest smile on that day. He wasn’t awkward, he wasn’t cold. He was nice though, and as if we had known each other before, while we hadn’t.

Few chats later he texted me
With a picture
Of his lunch.

How could I not surprise to have someone that was near stranger sent you a picture of his lunch?
But that was a good surprise, though.


To add more surprise, I asked him to exchange postcards. And he agreed. I wrote those letters few weeks later, went to Pos Indonesia right after, post those letters to this guy, and a week before his departure back to Indonesia he received that. And I never got the postcard he sent.






p.s.: he had to phone call me whenever he read my letter because he couldn’t read my handwritings. Poor me.

Friday, September 29, 2017

Tentang Nina Harfin #2

Days went on and he still loved every posts that I had posted. I barely knew him. I just knew he traveled a lot. At that time, He just went back from Bangkok. According to Uti, who had been a best friend of mine since 2 years ago, he’s my type. So I thought, he must be my type (yes, I have a strong belief in my best friends).

That curiosity grew more, and weeks later, it was enough to make me write.

My first writing for him.

(yes, i wrote even for someone that I didn't know yet.)

(and he printscreen-ed it, felt like it was for him. yes, it was for you!)


Thursday, September 28, 2017

Tentang Nina Harfin #1




This long journey started by a casual night out with the girls.

“Eh ini ada nih namanya Alfian Harfin, suka nge love semua post aku deh di path di Instagram, padahal kenal juga enggak kayaknya…”

“Masa nggak kenal sih Nin? Itu loh, Harfin..”

“Bukan Alfian ya? tau sih, satu SMP sama aku. Tapi aku kayaknya nggak pernah kenal. Ya nggak papa sih sebenernya, hak-hak dia. Nggak penting juga.” I thought, I should’ve not care about that, but the fact that his name came out every single time after I posted stuffs made me wonder.

We shared the silence for a few seconds, until she talked to me with full of excitement.

“Eh tapi… sumpah, sumpah. Dia kayaknya tipe kamu banget deh. Serius deh nin, kayaknya dia tipe kamu banget. Sumpah sumpah... Mau aku kenalin? Eh.... tapi aku juga nggak kenal sih...” said Uti who always thought that I never dated my type of guy.


And my curiosity grew from that.

Tuesday, September 5, 2017

Deleting Instagram

no, not the account.
and no, no, not forever.
but once in a while.


Sebenernya, saya udah sering delete berbagai app social media di handphone sejak di bangku SMA. Tiap mau ujian, saya suka delete social media atau minta sahabat saya buat ganti password sampai ujian selesai. makin kesini, kadang yang bikin pengen stop bukan karena saya ada ujian, tapi karena emang capek sama konten social media itu sendiri.

Beberapa waktu lalu, ada yang merasa tersindir sama konten quotes yang saya post. Sedih, sih. karena tiap saya nge post curhatan, ya saya post untuk membuat saya merasa lebih baik to make me feel better, atau untuk mengingatkan saya bahwa saya nggak sendirian. Eh, hal itu malah jadi a powerful weapon to hurt other's feelings out of my intention. Setelah itu, saya jadi lebih parno; menyortir following dan follower, membuat akun saya jadi private, dan jadi mikir berkali-kali untuk post sesuatu. Setelah saya pikir-pikir lagi, kenapa saya sampe jadi segininya ya? Saya menghabiskan banyak waktu untuk menyortir konten sosial medi saya sendiri, knowing that it could be good or bad depend on the consumer's view.

Tiap saya pulang kerja, saya menghabiskan 1-2 jam untuk catch up konten yang saya miss waktu di kantor, dan rasanya jadi nggak produktif banget! Sebagai anak yang suka baca dan nulis, waktu kreatif saya jadi berkurang jauh sejak ada social media . Kadang suka kepikiran juga, enakan dulu ya, knowing i managed my time better waktu di SMP, dimana waktu 1-2 jam abis di friendster, tapi kalau komputer mati, all i have is just books and notes.

Spreading good and bad vibes is also way easier using social media. Konten yang tidak disaring, yang ada 24/7 bikin saya nggak bisa 'kabur' dari pengaruh-pengaruh itu, mau yang baik atau yang buruk. Rasanya kontrol diri sendiri terhadap environment luar jadi minimal banget. *sigh*

So i decided to delete the app once in a while, for a day or two, or even for a week. kalo lagi pengen tau berita masa kini, i go into the instagram via www, checking my idols (selebgram inspirasyenel yang kontennya nggak melulu soal endorsment, fashion and traveling).

I've been doing this since 2-3 weeks ago, and I already feel happier and more productive. Kadang-kadang bingung sih, waktu senggang buat apa ya. Tapi ternyata, bosan itu penting, biar otak kita mikir apa yang bisa kita lakukan dan akhirnya terjadilah proses kreatif masing-masing pribadi. Seneng juga, keluar dari environment visual-aesthetic, yang kadang bikin mudah terobsesi tapi nggak mudah untuk dikejar dan nggak banyak manfaatnya juga, karena that's simply not my plate. I was a deviantart active user, platform berbasis digital art. Tapi platform itu bener-bener pure memamerkan artwork kita, istilahnya gallery online. Sedangkan instagram, visual yang dijual kalo nggak wonderful places, beauty faces, cool outfits, and branded stuffs.

Sejauh ini, saya merekomendasikan banget untuk melakukan ini once in a while. Meanwhile, we can do things we love for our own sakes tanpa sibuk ngeliatin atau menyusun feed:)



Monday, August 7, 2017

The Wedding Journey #5 - My Dream Wedding

Beberapa waktu lalu, saya ngobrol sama salah satu temen saya tentang nikahan. Kebetulan, kita berdua mau menikah dalam 6 bulan ini, jadi persiapan-persiapan pun kadang kita lakukan bareng (maklum, LDR semua sis). Ada satu waktu, dimana kita baru menghadiri beberapa kondangan dan kita ngobrolin tentang perayaan-perayaan tersebut. Kadang ada yang bagus banget sampe bikin pengen, kadang ada yang kita kurang suka dan berusaha untuk nggak melakukan hal yang sama kedepannya, dan kadang bahas tentang temen-temen yang tiap ketemu di kondangan dan minta undangan.

Sejak awal, ibu saya selalu bilang kalau nikahan saya bakal jadi nikahan yang sederhana di balai desa aja. Jadi ketika memutuskan untuk menikah, saya udah punya list 20 tamu undangan yang saya ingin undang, karena saya pikir undangannya bakal 100an undangan aja, include keluarga. Ketika down-sizing temen-temen sampai angka 20, saya Cuma mikir: siapa yang selama ini selalu ada buat saya di saat-saat suka duka saya selama ini. (I’m not kidding. Saya juga baru tahu kalau nikahan saya bakal di gedung ketika mempersiapkan lamaran.)

Buat saya, tamu undangan itu bukan tentang seberapa banyak, atau absen dari temen TK sampai temen kerja, atau lainnya. Saya Cuma butuh orang-orang yang ketika datang ke nikahan saya, bisa ikut bahagia liat saya akhirnya berakhir dengan orang yang saya sayangi dan kemudian mendoakan untuk keberkahan kehidupan keluarga saya nantinya. Takutnya, orang-orang yang tidak tau perjuangan saya untuk sampai di posisi ini mungkin kurang bisa merasakan bahagianya saya.

My bridesmaid are my priorities, kalo nikahan saya Cuma akad, ya mereka lah yang saya undang. Each one of them knows my struggles and everything else. Saya percaya mereka bisa ikut merasakan kebahagiaan saya dan itulah hal yang terpenting.

Saat memperiapkan pernikahan seperti ini, rasanya pengen banget jadi super perfeksionis. Pengen A, B, D, E, F, G, eh lupa C-nya, dan lainnya.. dan disaat-saat kayak gitu, biasanya saya Cuma bisa nangis aja, karena panik sendiri. Mempersiapkan pernikahan sendirian while I’m still having a full-time job from 8-4 dengan pacar bekerja jauh itu nggak sederhana. Senengnya, saya punya keluarga yang sanagt supportive dan temen-temen yang bisa saya minta bantuannya.

Dari awal, saya tidak punya dream wedding karena ibu saya bilang nikahan saya ya hanya kecil-kecilan. Kemudian jadi sedikit membesar, saya juga masih tidak punya gambaran apa-apa. Saya pun rajin browsing di pinterest dan Instagram, lalu saya sadar satu hal. Benar kata sebuah artikel disini, bahwa Instagram membuat standar pernikahan di Indonesia jadi naik banget.. setelah dipikir, bener juga sih. Dulu, orang hanya fokus pada perayaan sekian jam yang digelar. Sekarang, orang fokus pada foto-foto pernikahan yang di pajang di Instagram. Saya percaya setiap orang punya prioritas masing-masing, walaupun untuk saya hal tersebut bukan prioritas, tapi saya mengerti betapa pentingnya hal tersebut bagi beberapa orang.

Hari itu, saya ngobrol sama temen saya,

“aku nggak mau punya nikahan mewah, yang didatengin semua orang, tapi mereka nggak tau betapa pentingnya hari itu buat aku. Aku nggak mau, asal dekornya mewah, makanannya fancy, tapi acaranya nggak dirasa sakral. Aku pengen orang yang dateng, sesederhana apapun nikahanku, merasa bahwa nih lho, Nina dan pasangannnya abis janji atas nama agama, untuk barengan sama orang ini, bagaimana pun keadaannya nanti. Aku pengen tamu yang hadir ikut bahagia karena orang tuaku punya mantu. Pengen aja mereka yang dateng ikut bahagia karena vibe-nya.”

Dan temen saya pun mengamininya.

Sekali lagi, prioritas orang itu beda-beda. Sah-sah saja untuk menggelar pernikahan yang kita idam-idamkan. Hanya saja  menurut saya, ada hal-hal penting yang tidak boleh dilupakan disaat kita sibuk mempersiapkan pesta besarnya: bahwa janji kita kepada Allah itu yang utama, dan bahwa setelah ijab qabul kita akan diikuti oleh hak dan kewajiban yang baru, jangan lupa juga ikut dipersiapkan.