Tuesday, September 5, 2017

Deleting Instagram

no, not the account.
and no, no, not forever.
but once in a while.


Sebenernya, saya udah sering delete berbagai app social media di handphone sejak di bangku SMA. Tiap mau ujian, saya suka delete social media atau minta sahabat saya buat ganti password sampai ujian selesai. makin kesini, kadang yang bikin pengen stop bukan karena saya ada ujian, tapi karena emang capek sama konten social media itu sendiri.

Beberapa waktu lalu, ada yang merasa tersindir sama konten quotes yang saya post. Sedih, sih. karena tiap saya nge post curhatan, ya saya post untuk membuat saya merasa lebih baik to make me feel better, atau untuk mengingatkan saya bahwa saya nggak sendirian. Eh, hal itu malah jadi a powerful weapon to hurt other's feelings out of my intention. Setelah itu, saya jadi lebih parno; menyortir following dan follower, membuat akun saya jadi private, dan jadi mikir berkali-kali untuk post sesuatu. Setelah saya pikir-pikir lagi, kenapa saya sampe jadi segininya ya? Saya menghabiskan banyak waktu untuk menyortir konten sosial medi saya sendiri, knowing that it could be good or bad depend on the consumer's view.

Tiap saya pulang kerja, saya menghabiskan 1-2 jam untuk catch up konten yang saya miss waktu di kantor, dan rasanya jadi nggak produktif banget! Sebagai anak yang suka baca dan nulis, waktu kreatif saya jadi berkurang jauh sejak ada social media . Kadang suka kepikiran juga, enakan dulu ya, knowing i managed my time better waktu di SMP, dimana waktu 1-2 jam abis di friendster, tapi kalau komputer mati, all i have is just books and notes.

Spreading good and bad vibes is also way easier using social media. Konten yang tidak disaring, yang ada 24/7 bikin saya nggak bisa 'kabur' dari pengaruh-pengaruh itu, mau yang baik atau yang buruk. Rasanya kontrol diri sendiri terhadap environment luar jadi minimal banget. *sigh*

So i decided to delete the app once in a while, for a day or two, or even for a week. kalo lagi pengen tau berita masa kini, i go into the instagram via www, checking my idols (selebgram inspirasyenel yang kontennya nggak melulu soal endorsment, fashion and traveling).

I've been doing this since 2-3 weeks ago, and I already feel happier and more productive. Kadang-kadang bingung sih, waktu senggang buat apa ya. Tapi ternyata, bosan itu penting, biar otak kita mikir apa yang bisa kita lakukan dan akhirnya terjadilah proses kreatif masing-masing pribadi. Seneng juga, keluar dari environment visual-aesthetic, yang kadang bikin mudah terobsesi tapi nggak mudah untuk dikejar dan nggak banyak manfaatnya juga, karena that's simply not my plate. I was a deviantart active user, platform berbasis digital art. Tapi platform itu bener-bener pure memamerkan artwork kita, istilahnya gallery online. Sedangkan instagram, visual yang dijual kalo nggak wonderful places, beauty faces, cool outfits, and branded stuffs.

Sejauh ini, saya merekomendasikan banget untuk melakukan ini once in a while. Meanwhile, we can do things we love for our own sakes tanpa sibuk ngeliatin atau menyusun feed:)



No comments: