Saturday, December 21, 2019

Kehamilan dengan Toksoplasmosis / Toxoplasmosis in pregnancy



Hari ini aku ingin bayar hutang cerita tentang perjalananku hamil dengan toksoplasmosis. Aku yakin, bumil lain yang juga didiagnosis serupa mengalami perasaan yang luar biasa campur aduk, karena di satu sisi happy dengan kehamilannya, di sisi lain penuh dengan kekhawatiran. InsyaAllah, niatku cerita agar bumil-bumil lain melihat sisi positif dari 'perjuangan' ini, dan menyadari bahwa atas kehendak Allah, nggak ada yang nggak mungkin. InsyaAllah kita diberi jalan untuk mendapatkan keturunan yang sehat fisik dan mental, lahir dan batin. aamiin.

Bulan Agustus 2018, saya dinyatakan hamil 5 minggu. Seperti yang sudah saya rencanakan sebelumnya, saya berniat test TORCH. Test ini sebaiknya dilakukan saat promil, agar jika ketauan bisa langsung di treatment. Tapi, kebetulan saya belum bener-bener serius promil jadi belum test, maka dari itu saya langsung test saat hamil. Penting nggak sih untuk semua bumil? Jujur, ngga tau :') mungkin tergantung faktor risiko ya, seperti suka membersihkan kandang kucing, suka makan daging setengah matang, suka makan sayur mentah (loh ini kan lalapan?!). Kalau aku emang udah niat cek sih, dan qadarullah, dengan cara ini Allah memberi tahu aku bahwa aku berisiko menularkan penyakit ke anakku. Tahun itu total biayanya sekitar 2 juta plusplus di lab prodia.

Beberapa hari setelahnya hasil testku keluar, Rubela IgG +, CMV IgG +, dan Tokso IgG + IgM +. IgG menggambarkan past infection alias infeksi yang udah kita lewati sebelumnya, jadi bisa diabaikan asal IgM nya negative. Nah, tapi Tokso-ku ini IgM nya ikut positive. Yang kulakukan pertama adalah... konsul. Kebetulan aku dokter, jadi konsul ke temen dokter dan minta di konsulin ke Sp.Og yang dia kenal. Jawabannya makin bikin patah hati, nggak solutif. Jadilah aku nangis sehari semalam. Aku langsung minta izin dari puskesmas selama 1 minggu, aku mau ke jakarta/jogja cari dokter fetomaternal.


Lalu aku inget, aku adalah pasien lama dr Rukmono (obgyn-fetomaternal), dari aku SMP karena menstruasiku nggak teratur. Aku juga mahasiswa beliau dan hampir ngerjain skripsi sama beliau jadi kebetulan aku punya nomer hapenya. Aku hubungi beliau, menanyakan hasil lab. Sejujurnya nggak berharap banyak, secara beliau sibuknya banget banget, tapi yaudah dicoba aja. Ternyata beliau merespon, dan memintaku untuk cek IgG avidity. Beliau tenang banget, kasih tau aku dengan jelas. Intinya bilang, untuk cek avidity, kalo rendah ya minum obat selama hamil, kalo tinggi kemungkinan aman. No judgement at all (nggak kayak previous obgyn huft).



Keesokan harinya aku ke Jakarta sama suami, karena dia cutinya habis dan harus kerja. Hari itu juga disempetin cek lab, dan besoknya dapat hasil bahwa aviditasku rendah, jadilah udah harus minum obat. Tapi, aku harus ketemu dokter dulu biar bener-bener konsul dengan jelas. Saranku, cari dokter obgyn sub spesialis fetomaternal ya. Karena, penyakit ini membawa risiko kelainan bawaan pada janin, dan konsultan fetomaternal udah ngerti banget untuk deteksi dini hal ini. Minimal, dokternya nggak panik ketemu diagnosis ini karena lebih sering menangani. iya, dokter pun bisa panik lho. Saat itu aku udah booking obgyn di jakarta, tapi entah kenapa kurang sreg, akhirnya memaksakan untuk periksa di dokter rukmono di Jogja. Dulu nggak separah sekarang sih, ngantri sampe 3 bulan :')

Alhamdulillah, setelah ketemu dokter ku di jogja ini, aku legaaaa bangeet. Jujur masih takut dan masih suka nangis, tapi jauh terbantu. Kenapa? karena diberitau dengan sangat jelas. kurang lebihnya gini:

dokter: "kamu minum obat ini ya 3 kali sehari sama vitamin, asam folatnya dosisnya saya tinggikan ini, diminum selama hamil, jangan telat."
pasien: "ini dosisnya bener segini ya dok? kayaknya di jurnal segini, dok?" iya, aku ngeyel sama konsulen. bukannya aku bangga, tapi aku bener-bener sekhawatir itu sama kandunganku, dan aku menggambarkan bagaimana dokter ini terbuka dengan diskusi. Lagipula, ada perbedaan hitungan obat di jurnal dan di Indonesia (IU dan mg).
dokter: *cek lagi* "bener kok."
pasien: "dok ini kehamilan saya nggapapa?"
dokter: "iya, nggak papa. kemungkinan tertular ke bayi masih sangat rendah di trimester awal, apalagi dengan minum obat. ini belum keliatan, sih. tapi kayaknya baik-baik aja."
pasien: "dok, dokter nggak cuma ngeyem-yemin aku aja kan dok?"
dokter: "loh, tapi kamu butuh di yem-yemin kan?"
huaaa. iya banget T.T

Dannn berlanjutlah checkup tiap bulan terbang dari lombok ke jogja. di cek lengggkaaap banget karena emang mengatasi kekhawatiran adanya penularan penyakit. terakhir, aku izin ke dokterku karena mau ke Inggris. Beliau mengingatkan untuk test darah anakku dengan cord blood untuk tau apakah dia tertular engga. kalo tertular ya 'tinggal' minum obat aja T.T kemudian mulailah perjalanan medis di Inggris dengan NHS ku..

Disana, semua ibu hamil punya service ke puskesmas dan dengan midwife. Pertama-tama di cek semuanya sampe HIV dan Sifilis, karena itu juga menular ke bayi. Kemudian aku bilang aku ada tokso, dengan semua hasil lab, dirujuklah aku ke dokter spesialis. Di RS, ketemu bidan lagi, dan dia nggak ngeh aku harus ketemu spesialis, jadi aku utarakan kemauanku dan kebutuhanku, kita diskusi dulu baru dia manggil dokter jaganya. Kebetulan, dokter spesialis ini (mungkin) kayak chief residen gitu, belum bener-bener paham, akhirnya aku di rujuk ke sub spesialis fetomaternal (beda deh namanya disana, cuma aku lupa) untuk next appointment.

Di dokter selanjutnya (sub spesialis fetomaternal), aku dilakukan pemeriksaan lagi. untungnya, sebelumnya aku dengan sub fetomaternal juga, jadi data-datanya rinci dan lengkap, beneran rinci bangetttttttt.... beda sama ke obgyn biasa. kalau memang ada masalah memang sebaiknya ke fetomaternal sih menurutku.. Lalu seperti biasa, paling lama dan teliti setelah ukur-ukur bayi adalah cek kalsifikasi di otak. as long as there's no calcification, they'd be happy. lalu advice nya adalah melanjutkan obat antibiotikku sebelumnya. sayangnya, obatnya tidak available di UK wkwkwk, jadi harus nunggu impor yang datengnya bulan depannya. Alhamdulillah aku udah nyetok super banyak jd insyaAllah cukup sampe lahiran.

Fast forward ke post natal, aka setelah lahiran. Alhamdulillah lahiranku dengan normal, lancar. Seperti plan yang sudah ditulis di rekam medis, bahwa anakku akan diambil darahnya untuk di cek apakah ada IgG IgM toksonya. eh tapi disana nggak ada test direct untuk melihat itu, jadi testnya mirip mirip gitu tapi hasil nya juga menunjukkan ada atau engganya infeksi. Kemudian aku dirujuk ke dokter spesialis Mata konsulen anak, untuk melihat ada kelainan bawaan di mata engga, karena tokso juga bisa berimbas ke mata. Alhamdulillah, engga ada. Disana semua bayi baru lahir juga di cek fungsi pendengarannya, ini juga salah satu concernku tentang tokso dimana bisa menyerang fungsi pendengaran telinga, dan alhamdulillah aman juga. Disana, anakku juga rutin ketemu dokter spesialis anak konsulen infectious disease. baik bangettt huhuhu. namanya dr Laura Jones T.T beliau mendengarkan dengan attentive, mencatat, mengingat informasi yang sebelumnya aku beri, ngecek dulu ke rekam medis elektronik data-data yang beliau butuhkan baru tanya dan akhirnya menyimpulkan, mau banget diskusi dalam waktu appointment kita. ya kalo telat ya tentu buru-buru, tapi biasanya cukup banget! Bahkan aku cerita tentang keluhanku selain tokso aja ditanggepin banget huhuhu terharu banget, belum nemu dokter anak sebaik dan sebagus beliau. Anakku memang udah aman dari test darah pertamanya, tapi kemudian anakku juga di test IgG serial, karena IgG pasti cross placenta, jadi anak pasti bawa tuh IgG darii darah ibunya yang sedang terkena tokso, tapi trend kadar IgG nya harus turun, jadi di cek terus. di UK, di cek sampe 18 bulan. Selama ini anakku alhamdulillah trend IgGnya turun.

Alhamdulillah, sampailah aku pada akhir cerita toxoplasmosis in pregnancy ini bahwa insyaAllah anakku tidak membawa penyakit toksoku. Udahlah, aku udah siap dengan worst case banget, moodku selama hamil naik turun, ditambah gempa lombok dan ditinggal suami sekolah. Tapi qadarullah, Allah masih izinkan aku untuk punya anak yang terbebas dari tokso, alhamdulillah.

Mungkin ada beberapa yang bertanya-tanya, dapet darimana? aku tuh nggak suka kucing jadi kayaknya bukan dari kotoran kucing/tanah. Tapi bulan sebelumnya aku makan daging setengah matang (gyukatsu dan sate?) juga sering makan lalapan, huallahualam sih yang mana yang menyebabkan, ngga ada yang tau juga kan... jadi aku selalu ingin bumil hati-hati sama makanan belum mateng :") bukannya nakut-nakutin lho....


Untuk ibu hamil di luar sana yang mengalami hal yang sama seperti aku, semangat ya... tenang, ini bukan akhir dari dunia. berbahagialah diberi kesempatan mendapat ujian tambahan ini,  berarti Allah percaya kita bisa melalui ini. Selain itu bonding dengan janin dan suami pasti jadi lebih erat dan insyaAllah ini akan meningkatkan rasa syukur kita dan kedewasaan kita. ada beberapa saranku:
1. sebisa mungkin ke fetomaternal, kalau sulit, selama hamil sekaliiii aja nggapapa..
2. cari dokter yang juga membuat kita nyaman hati dan pikiran. karena aku yakin ini stressful banget. tiap mau ke dokter aku nangis takut, jujur.... padahal dokterku enak banget jelasinnya.
3. kalau ngga siap denger omongan orang, simpan info ini untuk diri sendiri dan keluarga terdekat.
4. minum obat teratur dari awal kehamilan bisa menurunkan risiko penularan.
5. jangan terlalu banyak baca yang negatif-negatif, cari kesibukan yang bikin happy aja:')
6. do'a, do'a, do'a. semua bisa karena Allah.




2 comments:

hananashrafi said...

alhamdulillah bgtt ya Niin semua udah dilalui dgn luarbiasaa. Salut bgtttt :') Cila sudah kuat yaaa sejak dalam kandungan. sehat2 Cila Nina Harfin ��

adninahr said...

iyaa alhamdulillah, jadi ibu tuh kayak berasa dipaksa kuat aja gitu ya? hehehhe. makasi ya Hanan.. sehat2 jg utk kamu sekeluarga.. aamiin aamiin