Wednesday, June 19, 2019

Life After Baby

Sedari dulu, aku selalu merasa bahwa punya anak itu nggak mudah. Hal itu juga yang bikin aku nggak ngoyo untuk cepet-cepet punya anak, lebih ke percaya sama timing Allah aja, mau dikasih kapan ya berarti menurut Allah itu waktu terbaik untuk semua. Walaupun kenyataannya.. setelah berpasrah.... ternyataaa... menjalani sesuai timing Allah........ tetap tidak semudah itu :))))

Aku tau hamil 2 hari setelah suami tau akan berangkat S2 ke UK. Dua minggu kemudian aku tau bahwa aku hamil+tokso, 3 minggu kemudian suami udah di UK:))))) asli roller coaster banget rasanya, kesel sedih capek... Lalu berusaha move on untuk menyelesaikan internship dan mengurus kepindahan ke UK. Aku mulai pindah ke UK Akhir Desember 2018, setelah selesai internship di bulan November. Rasa-rasanya aku nggak mengalami honeymoon period selama di Edin, karena jujyuuurr kurang cocok sama dinginnya dan beranginnya disini..  juga sulitnya beradaptasi dari pekerja jadi ibu rumah tangga full time (tapi pada akhirnya alhamdulillah menemukan escape berupa... masak dan makan!) Dan setelah sedikit banyak beradaptasi tinggal di perantauan, tau-tau 4 April 2019 aku udah jadi ibu dan harus beradaptasi... lagi!

Seminggu pertama aku masih tinggal di rumah sakit. Alhamdulillah aku lahiran normal, harusnya sih bisa langsung pulang, tapi kemudian aku ditahan... nggak boleh pulang dulu. Awalnya aku nggak tau kenapa aku ditahan, dan dimasukkan ke ruang isolasi. Bidan yang menangani aku pun nggak bisa menjelaskan dengan detail kenapa saat itu. Nangislah aku, sedih karena ngga ada persiapan menginap, nggak bawa baju-baju dan nggak siap mental juga. Udah berdoa dan berusaha banget agar lahiran normal biar ga nginep.. eh malah di rawat inap :( Baru setelah masuk ruangan, aku dijelaskan bahwa aku di isolasi untuk cek bakteri MRSA, karena aku sempet kerja di RS di Indo dimana ada risiko terpapar bakteri itu. Sayangnya, mereka pun nggak tau berapa lama aku di isolasi... hiks. Tapi ya ternyata itu kayak blessing in disguise gitu sih, soalnya ada bidan 24/7 yang bisa kutanyai dan ada makanan siap sedia tiap waktu makan. Aku pun bebas tugas beres-beres rumah juga wkwkwk. Kebetulan dapet kamar isolasi kan, jadi suami bisa ikut nginep, yey! Aku diisolasi selama 5 hari, sampe semua sample ku terkumpul dan dinyatakan bebas bakteri. Hahhaa kocak juga sih ini kalo diinget-inget, tapi aku yakin semua ada maksudnya.

Minggu kedua... adalah battle yang sesungguhnya. Seperti kesepakatan sebelumnya dengan suami, aku megang anak, dan suami megang semuaaa kerjaan rumah yang lain + belajar karena mau ujian + masih part time. Minggu kedua anakku mulai nangis kenceng dan susah ditenangkan.. suami baru tidur dini hari karena belajar, jadi aku juga jarang minta tolong suami.. apalagi dia bangun tidur udah harus nyiapin sarapan, cuci baju, beberes rumah.. rutinitas itu aku jalani hampir sebulan. akibatnya? Aku capek dan bosen banget. Tiap hari kerjaannya nyusuin, nidurin bayi, yang kadang nggak mau tidur aja gitu.. nangis terus sampe akunya ikut nangis wkwk. ada kali, seminggu sekali atau dua kali aku nangis seharian, literally dari bangun tidur sampe tidur lagi nangis, sambil masih megang anak. suami juga bingung harus gimana. Akhirnya aku minta suami berhenti part time biar lebih ada waktu untuk bantuin aku, dengan risiko harus hidup full dari stipend.... jeng jeng! hahahha.

Dilanjutkan minggu-minggu setelahnya, dimana aku makin lama makin jenuh, dan akhirnya memutuskan bahwa: aku mau megang urusan rumah lagi dan suami gentian yang nidurin bayi (most of the time). It was a big shift. Akhirnya aku masak macem-macem, makan enak lagi (no offense, hubby, but you know who's the better chef, kan:p), cuci-cuci, beberes, nyapu, dll. Hal itu cukup membantu aku biar nggak jenuh dengan rutinitas nen-nidurin-nen-nidurin erus dan akhirnya merasakan me-time yang sesungguhnya! Padahal cuma sambil nyuci piring.... hahaha.

Sejujurnya aku tau bahwa aku prone terhadap baby blues, mengingat kehamilanku yang berat, personality ku yang (agak) drama wkwkwk dan ketidakhadiran suami pada sebagian besar kehamilanku. Tinggal milih aja: lahiran di Indo baby blues karena jauh dari suami setaun, atau lahiran di UK baby blues karena jauh dari keluarga. Banyak momen dimana aku bener-bener berharap ada yang gantiin aku megang anak, ada yang gendongin, aku bisa makan enak 3 kali sehari, ada gofood, bisa ke salon, ada temen ngobrol tiap hari di rumah, ada hiburan, dan lainnya. Tapi bersyukur juga, walaupun aku bener-bener rajin nangis di satu bulan awal dan males banget makan, ASI-ku masih lancar, berat badan anakku naik terus, anakku sehat walaupun kondisi kehamilanku dulu yang dengan tokso, dan punya suami yang supportif. Ada masanya ketika aku nangis pengen pulang, butuh bantuan, suami keliatannya cuek aja gitu hahaha dan rasanya pengen packing langsung beli tiket pulang. Tapi aku pikir ya ini battle yang harus aku lewati.



Tentang baby blues.
Apa sih yang aku rasain selama baby blues itu? Macem-macem, dari nangis seharian, marah sama suami, marah sama bayi dari ngomel-ngomel sampe nggak mau megang bayi, takut tiap anakku bangun, menyalahkan keadaan, dan lainnya. Ada salah satu episode yang aku masih inget banget, dimana waktu itu bayiku bangun dari jam stengah 3 pagi sampe jam 5 pagi dalam keadaan masih nangis dan belum mau tidur walaupun udah bolak balik disusui sampe dia nolak-nolak (kalo aku ngga nonton youtube dr tiwi aku pasti kira anakku laper, ASI ku kurang dsb dsb. Tapi since anakku masih pipis dan pup, setelah aku pencet juga ASI ku masih keluar, aku jadi yakin aja ini bukan karena dia kelaperan karena ASI ku kurang). Aku berusaha menenangkan, timang-timang, bolak balik dari kamar tidur ke living room, udah gitu jalannya pelan-pelan agar suami yang barusan tidur nggak kebangun. Setelah 2 jam lebih berusaha menenangkan tapi masih belum berhasil, aku akhirnya frustasi sendiri dan mulailah nangisssssss... akhirnya aku nyerah, masuk kamar sambil banting pintu, dan taruh bayi di kasur meanwhile aku melanjutkan nangis cirambay di sampingnya. Suami pun kebangun karena suara pintu kemudian gantiin timang-timang.... Huhuhu sedih sih kalo diinget-inget lagi, kasian sama diriku sendiri lol pengen kloning diri sendiri trus peluk, pukpuk, sambil bilang: 'hang on there, i'm here.' gila emang wkwkwk. Jujur, berat. Aku sampe tanya ke temenku yang juga lahiran di luar negri, seberat itu kan?? (cari justifikasi) dan dia mengiyakan hahahhaa. Untungnya, dia bisa menghadirkan keluarganya ke LN, dan aku enggak T.T jujur, aku belum menemukan orang Indo lainnnya yang lahiran di LN tanpa kehadiran keluarganya dan tetep waras seutuhnya.

Agar terhindar dari baby blues.
Aku sempet ikut kuliah whatsapp tentang baby blues beberapa hari setelah melahirkan, sayangnya kontennya agak luas huhu jadi nggak ngena buat aku yang udah melalui proses post partum. Salah satu hal yang paling banyak ditanyakan adalah, 'gimana sih caranya agar terhindar dari baby blues?' Kalau menurutku, sebenernya luas sih, tergantung value yang dipegang masing-masing orang dan keadaan kehamilan/persalinan/pasca persalinannya, tapi ada beberapa poin penting: dekat dengan orang terkasih (suami/orang tua/lainnya tergantung prefence masing-masing), cukup tidur, cukup nutrisinya, dijauhkan dari komentar negatif (nggak disalahkan, dihakimi, dibandingkan, dll) dan diperbanyak obrolan positif (diapresiasi, didukung keputusannya, dll) , juga diberi bantuan dalam mengurus bayi (bisa dititipin gitu lho, gantian gendong dll, apalagi anakku bener-bener nggak bisa ditaruh/ditinggal... lah curhat lagi T.T). Nah, tergantung value masing-masing yang aku maksud disini adalah, kadang buat seseorang lahiran normal itu penting, jadi ketika dia gagal normal sedih, ASI eksklusif itu penting, jadi ketika harus sufor sedih, omongan orang itu penting, jadi ketika ada omongan orang yang kurang baik dia sedih. Nah, kesedihan ini bisa jadi trigger untuk terjadinya baby blues,  tapi trigger-trigger ini nggak selalu universal, nggak selalu apa yang mencetuskan baby blues di satu orang akan sama di orang lain. Contohnya nih, ada loh temenku yang dapet banyak omongan yang menyalahkan dia, tapi dia bisa menghalaunya gitu, karena dia punya kepercayaan kuat sama apa yang dia lakukan, sebodo amat orang ngomong apa. Kalau aku, karena tau hidupku kayaknya akan ribet semua hanya berdua suami, udah sangat pasrah sama apapun, nggak mau idealis (tapi ternyata aku tetep punya idealisme tertentu yang aku nggak sadari gitu, dan berakhir bikin stress wkwkwk). Even kalau harus nggak eksklusif ASI karena satu dan lain hal aku ikhlas kok yang penting aku hidup bayi hidup, cuma ya ternyata alhamdulillah Allah masih kasih rezeki aku berupa ASI sampai hampir 3 bulan ini.

Masih ada setitik rasa sebel kenapa suami membuat pilihan yang tidak menyenangkan soal bagaimana pengalaman pasca melahirkanku (antara tanpa keluarga atau tanpa partner pembuat anak lol), tapi kalo aku masih merutuki nasib, sama aja aku mempertanyakan ketentuan Allah, dong? Dosa bener T.T Jadi ya kayaknya aku harus belajar ikhlas bahwa Allah pasti memberi rezeki maupun cobaan ada maksudnya, termasuk untuk hal ini.


But please, dear bapak-bapak diluar sana, kasianilah istrinya, udah hamil berat rasanya, melahirkan sakit, pasca persalinan juga masih sakit, kasihlah suasana pasca persalinan yang menyenangkan. Jauhkan dari omongan-omongan yang kurang baik, atur waktu kedatangan tamu, berikan waktu istirahat cukup, pastikan nutrisi ibu tercukupi, bantu ia kembali percaya diri terhadap tubuh 'baru' nya, bantu rawat bayi semampunya juga. Sesungguhnya battle ibu baru itu berat dan panjang, dan aku rasa nggak ada perempuan yang pantas melewatinya sendirian.


(but if you have to get through it alone, i believe you can do it. walaupun tingkat kewarasan agak dipertanyakan ditengah jalan, tapi bisa kok dilalui, InsyaAllah.)


No comments: