ditengah sibuknya kuliah, ditengah banyaknya tulisan abstrak yang
harus dimengerti dan di hafalkan mati, kelas tutorial jadi salah satu
kelas yang inspiratif buat aku. kita study kasus, walaupun masih dasar,
tapi kita menyentuh realita dari penyakit-penyakit yang ada dan (masih)
sederhana.
saat itu seorang dokter wanita membimbing kami.
sepanjang diskusi kami, beliau hanya diam dan tampak tidak ekspresif.
aku pikir, diskusi kelompok kami mungkin terlalu membosankan. tapi
yasudah lah, mungkin banyak pasien yang kasusnya lebih menarik untuk
dipikirkan daripada memikirkan diskusi kelompok kami. tapi pada akhir
diskusi, saya jadi yakin kalau beliau mendengarkan, karna beliau
mengutarakan pendapat tentang celotehan-celotehan kami mengenai kasus
ini. beliau membagikan sedikit ilmunya kepada kami, menjawab
pertanyaan-pertanyaan kami tersebut. mengetahui beliau menjawab dengan
sangat lancar, saya curiga beliau sudah mengambil spesialis di bidang
tersebut (genitary, aku pikir beliau spesiali kulit dan kelamin, atau
obsgyn). ternyata beliau dari spesialis anak. iya, spesialis yang
terkenal dengan dunia residennya yang keras. mendengar cerita kakak
kelas tentang kehidupan-setelah-menjadi-dokter yang tak kalah beratnya
daripada mengejar gelar S.ked, aku pikir, residen anak pasti jadi salah
satu pintu 'siksaan' lainnya. kemudian aku tanya pada dokter tersebut.
"dok,spesialis anak susah ya?"
"kalau kamu suka sesuatu, semua pasti terasa menyenangkan dan ringan, kan?"
lalu
mataku berbinar-binar, entah beliau menyadarinya atau tidak. one thing i
dislike about medicine is that the people are too much into reality.
they forget how to have a dream 'cs reality itself is just good enough
to live in. mereka jadi terlalu saklek dan memandang pengalaman sebagai
fakta mutlak. mimpi-mimpi saya hampir mati karna cerita tentang sulitnya
kehidupan spesialis dan sekaligus susahnya kehidupan dokter umum.
mungkin mahasiswa kedokteran terlalu sibuk dengan pelajarannya sehingga
lupa untuk membaca buku-buku dengan genre selainkedokteran dan (sedikit)
hiburan. hey, dunia itu luas, yang hebat itu JAUH lebih banyak daripada
cuma dokter yang menyalurkan penyembuhan dari Allah. kenapa bangga
berlebihan? mungkin banyakyang menganggap bahwa menjadi dokter sudah
cukup oke untuk punya impian lain. menganggap bahwa sulitnya sekolah
adalah realita yang tidak mungkin satu orang pun elakkan. rasanyajahat
menyebarkan feeling-feeling buruk tentang sulitnya sekolah. mereka
mematikan sayap-sayap mimpi saya. mereka bilang mimpi tidak cukup,
padahal mimpi lah yang membawa saya lolos ke fakultas kedokteran terbaik
se-Indonesia ini.
terimakasih, dok, untuk
satu kalimat berharganya. saya harus bersyukur atas pengalaman ini. saya
jadi punya positive thoughts tentang kampus dan kehidupan kesehatan;
bahwa tidak semua orang disini mengejar sesuatu karna ingin semua yang
terbaik, atau materi yang berlimpah, atau bahkan gengsi semata. masih
ada orang yang punya pengalaman cukup banyak hingga mencapai spesialis
dan masih memegang teguh passionnya:)
alhamdulillah
No comments:
Post a Comment