Saya ingin menjadi dokter, dan betapa pun itu terdengar
membosankan, tapi saya berkeinginan untuk menjadi dokter. Kalau orang lain
punya keinginan untuk menjadi dokter sejak TK, saya tidak, sehingga persiapan
untuk menjadi dokter pun hampir nol. Nilai-nilai akademik saya biasa-biasa
saja, namun saya cukup beruntung untuk bisa masuk ke sekolah unggulan di Jogja.
Saya bahkan mungkin tidak termasuk 50% terbaik di kelas pada awalnya, namun
saya tidak peduli. Toh buat saya saat itu, hidup bukan untuk sekedar nilai.
Sampai saat itu, Bude terdekat saya yang mengidap kanker
payudara stadium lanjut harus bolak-balik rawat inap di rumah sakit. Saya yang
saat itu masih menggunakan seragam putih biru sering datang untuk menjenguk
beliau. Saat berada dirumah sakit, saya hanya terkagum-kagum oleh ramahnya
dokter, perawat dan bahkan pasien-pasien sekitar yang kami temui. Bukannya
sebagai tempat yang infectious, rumah sakit malah memberi banyak energi positif
untuk saya. Saya rela menempuh perjalanan 10 menit dengan bis kota untuk
mencapai rumah sakit dan menengok Bude saya.. Rasanya momen-momen tersebut
sangat damai.
Tapi saat itu, saya masih ingin menjadi menejer perusahaan,
dimana saya akan berpakaian modis dan bertemu banyak orang baru dan seru. What
can be more fun than that? Saya masih
mengelak tentang menjadi dokter. Alasannya simple, menjadi dokter adalah impian
semua orang dan saya malas bersaing dengan semua orang. Lagipula menjadi dokter
terdengar membosankan, ratusan buku harus di khatamkan, bekerja dengan otak
setiap saat. Tiring.
Dan angin itu berhembus. Angin kesedihan yang dibawa oleh
berita kematian Bude yanti. Saat itu saya hanya terdiam dan tidak percaya.
Bagaimana bisa secepat ini? Dan hari-hari pun berlalu berlalu seperti biasa.
Sampai pada suatu ketika, saya teringat oleh semua kasih sayang Bude, bagaimana peran Bude merawat saya saat ayah dan ibu saya sibuk. Saya menangis tiap
malam, menyesali betapa tak acuhnya saya pada Bude di detik-detik terakhir
kesehatannya, sebelum Beliau koma selama hampir satu bulan. I’ve had that sad moment for almost 3 months.
Dan saya memutuskan untuk menjadi dokter.
Lagipula, bukanya dokter sangat bermanfaat untuk orang lain?
Saat yang lain sibuk membicarakan gaji, saya cukup dibayar oleh kepuasan pasien
dan tanda terima kasih mereka. Atau mungkin saat tidak ada lagi yang menghargai
pekerjaan saya, saya masih menjadi tangan bantuan dari Tuhan untuk penyembuhan
umat Nya. Dan saya sangat suka membaca. Alasan apalagi yang saya butuhkan untuk
menolak menjadi dokter? Ya, saat itu ada satu alasan; urusan akademik.
Memasuki SMA unggulan tidak membantu saya untuk mengingat
tujuan utama saya disini. Bukanya belajar, saya malah sibuk mencari teman dan
pengalaman. Sebenarnya saya tidak sepenuhnya lupa tujuan utama saya disini,
namun saya lupa untuk berusaha menggapainya. Saya hanya sambil lalu mengikuti
pelajaran, beberapa kali bolos, dan kehidupan saya hanya terisi dengan kegiatan
extra dan berkumpul bersama teman-teman. Menyesal? Tidak. karna pada tahun
ketiga, saya telah sepenuhnya sadar dan siap untuk menggapai mimpi saya. Sangat
sulit mengubah kebiasaan untuk belajar dari bangun tidur sampai tidur lagi,
mengingat saya bahkan tidak pernah belajar kecuali ketika exams week di tahun
pertama dan kedua. Tapi ini demi mimpi saya. Semua orang meremehkan keinginan
saya untuk menjadi dokter dari Universitas unggulan di Jogja. It’s bloody hell
hard, they said. Tapi saya ingin itu, dan hanya itu, dan saya harus bisa
mewujudkannya. Bahkan ketika saya diterima di universitas swasta dimana ayah
saya mengajar, semua orang masih meremehkan saya. Mereka bilang itu nepotisme.
Mereka nggak tau bagaimana saya khawatir dan belajar keras untuk ujian
tersebut. Dan ketika saya gaga ldi seleksi undangan, saya hanya punya waktu 18
hari untuk persiapan seleksi tulis. Untungnya, saya tidak pernah benar-benar
berhenti belajar, jadi memulai usaha keras bukan jadi PR besar. Menyiapkan
mental dan optimism adalah tugas besar saya. Dan hari H ujian. Semuanya
berjalan lancar kecuali sakit maagh yang datang. Saya sudah tidak peduli dengan
hasilnya, karna saya sudah melakukan yang terbaik dan biar Allah yang
menentukan.
Lalu pengumuman pun datang. Saya tidak siap gagal lagi…
bismillahirrahmanirrahim. Saya buka dan …. Alhamdulillah saya diterima di
fakultas kedokteran universitas negri terbaik disini. Dan ini bukan akhir dari
mimpi saya. It’s a very beginning. Ini saatnya saya memulai perjalanan saya,
dan juga mengingatkan orang lain untuk punya impian dan menghidupkannya,
seperti yang saya lakukan. And I’ve been striving hard here, but always have a
smile in the end of day. Karna sekarang, saya bisa berkata: I’m living my dreamJ now, would you?
No comments:
Post a Comment