Wanita ini melihatku tajam dan dalam, hingga dimensi ruang dan waktu tak kurasakan lagi. Ia adalah wanita yang pernah menjelaskan tentang miripnya mata manusia dengan antariksa, menganalogikan pupil dengan lubang hitam yang menarik semua hal dan menyimpan lebih banyak hal, dalam gelap. Aku merasa masuk kedalam lubang hitam matanya cukup dalam, sampai ia menyadarkanku.
"Aku udah nyari, tapi nggak ketemu.."
"Apa?"
"Perasaanku, perasaanku ke kamu yang dulu."
....
Apa ini?
"Maksudnya gimana, sayang?"
"Aku udah nyari sejak lama, dari ngulangin memori-memori kita, ke tempat-tempat favorit kita, ngeliat barang-barang yang kita udah kumpulin berdua, bahkan aku udah cari dari mata kamu, dari cara kamu mandang aku, tapi semua udah nggak ada. Perasaan itu udah nggak ada.."
Aku kehabisan kata-kata...
"Apa ada orang lain?"
"Nggak ada. Nggak ada orang lain. Perasaan aku ilang aja dan aku nggak tau harus cari kemana lagi."
"Gimana bisa?" Aku mulai terdengar frustasi.
"Mungkin hilang dalam proses kita selama ini. Apa selama ini perasaanku kamu jaga?"
Aku hanya bisa diam. Aku sudah cukup menjaganya, kan..
"Tapi kita udah punya komitmen, kan?"
"Iya. Tapi punya komitmen juga bukan berarti aku jaga perasaanku sendirian, kan."
... Long pause. Aku mengambil nafas panjang.
"Aku nggak ngerti."
"Kamu nggak harus ngerti sekarang.."
"Trus kamu maunya apa?"
"Jangan ada berantem. Jangan ada saling nyalahin. Aku cuma mau kita pisah aja."
"Aku.. Aku nggak mau."
"Percuma. Mau nggak mau, aku yang kamu sayang udah nggak ada lagi. Kamu mau sama aku berapa taun lagi juga sama aja; hati sama pikiranku udah nggak sama kamu."
And i can't speak a word.
No comments:
Post a Comment