Siang itu panas banget. Aku masih menunggu puluhan detik lampu merah untuk berganti. Aku melihat sekeliling dan melihat puluhan keranjang warnawarni diikatkan pada sepeda onthel bagian belakang. Lalu aku mengerakkan bolamataku, memperluas pandanganku, menemukan puluhan burung burung gereja yang telah diwarnai.
Entah, aku hanya memikirkan: berapa sih yang bapak ini dapat? Seberapa cukup sih uang itu untuk hidupnya dan keluarganya? Apakah ia pernah terpikir untuk berlibur sejenak?
Entah, aku hanya memikirkan: berapa sih yang bapak ini dapat? Seberapa cukup sih uang itu untuk hidupnya dan keluarganya? Apakah ia pernah terpikir untuk berlibur sejenak?
Lalu beberapa detik kemudian aku mulai memikirkan burung-burung itu. Apakah mereka nyaman? Apakah tidak apa membiarkan mereka diberi zat pewarna, dan bukanya membiarkan warna asalnya memikat para calon pembeli? Pantaskah hewan liar dikandangkan lalu diperjualbelikan? Apakah itu memang salah satu takdir burung liar? Aku asumsikan orang tersebut tidak berternak melainkan menangkap burung liar.
Lalu aku kembali memperluas pandanganku, ia menghisap rokoknya dalam; orang yang berada pada kemudi sepeda onthel itu. Apakah ia sadar, bahwa pundi-pundi rupiah yabg ia kumpulkan bisa terbakar habis oleh penyakit yang ia ciptakan sendiri? Bagaimana jika ia cukup pintar utk mengerti risiko dari rokok, akankah itu mengubah keadaan? Padahal ia naik sepeda kemana-mana menjual burung-burung tersebut, kebiasaan yang sehat bukan?
Menjelang pergantian warna lampu, ia mengayuh sepeda, tak ingin ketinggalan lampu hijau yang juga akan segera berganti. Peluhnya terlihat menetes. Aku melihat kerja keras yang sia-sia dalam satu manusia dalam beberapa detik saja.
No comments:
Post a Comment